Ilustrasi

Bagi kalian pengendara mobil mungkin tidak asing lagi dengan intermittent windshield wipers. Ya, intermittent wipers adalah sistem wiper kaca yang memungkinkan pergerakan wiper yang terputus-putus. Meskipun industri otomotif telah berdiri sejak akhir abad ke-19, tahukah kalian bahwa sistem wiper ini baru diciptakan pada awal tahun 1960-an oleh seorang dosen teknik bernama Robert W. Kearns.

Robert Kearns | Sumber: worldsultimate.net
Sebelum ditemukannya intermittent windshield wipers para pengendara mobil terganggu dengan wiper kaca yang terus bergerak tanpa jeda dan menghambat pandangan saat menyetir. Oleh karena itu, mereka harus mengatur sendiri gerak wiper kaca dengan menyalakannya dan mematikannya setiap dua kali gerakan.
Ilustrasi | Sumber: blog.autointhebox.com
Pembuatan sistem wiper ini terinspirasi dari cara kerja mata manusia. Pada saat bulan madu bersama istrinya, Dr. Kearns membuka tutup botol wine dan tidak sengaja melukai matanya. Sejak saat itu ia sering melihat ke cermin dan memerhatikan cara kerja mata yang berkedip. Ia berpikir untuk membuat wiper kaca yang dapat bergerak otomatis seperti kedipan mata.
Robert Kearns dan Hasil Temuannya | Sumber: top10allinfo.com
Setelah melihat presentasi Dr. Kearns, Ford Motor Company setuju untuk memasang sistem wiper tersebut pada produk mobil mereka. Namun, perusahaan mobil yang menciptakan sistem kerja 9 to 5 (sistem kerja 8 jam-red) ini membatalkan perjanjian tersebut. Tanpa sepengetahuan Dr. Kearns, Perusahaan Ford memasang sistem wiper kaca tersebut di mobil terbaru mereka. Perusahaan Ford akhirnya harus berurusan ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah siapa pemilik paten intermittent wiper.
Buku A Tale of Two Cities | Sumber: wikidownload.com
Karya Charles Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities menjadi senjata bagi Dr. Kearns untuk menyerang pihak Ford. Salah satu saksi mengatakan bahwa Dr. Kearns bukanlah penemu sistem wiper tersebut karena menggunakan kapasitor, rasistor variabel, dan transistor. Dr. Kearns hanya menyusun ketiga elemen tersebut, bukan menciptakannya. Dr. Kearns akhirnya membacakan kalimat awal dalam tulisan Dickens “it was the best of times, it was the worst of times” dan mengatakan bahwa setiap kata dalam kalimat tersebut terdapat di dalam kamus. Dickens hanya menyusun kata-kata tersebut, tetapi ia dianggap sebagai pemilik dari buku yang ia tulis. Dr. Kearns akhirnya memenangkan kasus di pengadilan tanpa bantuan pengacara. Ia justru menyiapkan sendiri pertanyaan serta bukti-bukti pendukung dan hanya didampingi oleh anak sulungnya. Inspirator Freak Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Lulu Fakhriyah Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY