Tepat hari ini, Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, yang ditetapkan sebagai tokoh perintis kebangkitan feminisme di Indonesia. Dikutip dari Wikipedia bahasa Indonesia, feminisme adalah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan kesetaraan hak dengan pria.

Selain lewat buku, gerakan feminisme juga dituangkan dalam film. Berikut beberapa film tentang feminisme yang sudah edar dan tayang.

1. He Named Me Malala

Foto: Allthrive.org

Film ini membidik potret kehidupan remaja pemberani asal Pakistan, Malala Yousafzai, yang gigih memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan hak bagi kaum perempuan di negaranya.

Fim ini mengisahkan bagaimana Malala, penerima anugerah Nobel untuk bidang perdamaian, secara ajaib selamat setelah ditembaki seorang tentara Taliban karena keberaniannya menuntut hak pendidikan untuk perempuan di Pakistan.

2. Suffragette

Foto: s.movie.as

Drama ini melacak awal pergerakan feminisme di Amerika Serikat. Pada tahun 1912, banyak kaum perempuan di negara ini dipaksa melakukan pekerjaan brutal untuk alasan tidak jelas.

Fiksi sejarah ini berkisah tentang Maud, yang diam-diam direkrut oleh gerakan pejuang hak pilih perempuan untuk bergabung. Maud menjadi pejuang perempuan berpengaruh di unitnya dalam mendapatkan hak perempuan sebagai anggota masyarakat.

3. Kartini

Foto: metrotvnews.com

Dibintangi aktris peran bertalenta, Dian Sastrowardoyo, film besutan sutradara bertangan dingin, Hanung Bramantyo, ini berkisah tentang jiwa kepahlawanan Raden Ajeng Kartini. Tayang di bioskop Indonesia mulai 19 April, film ini mengangkat kisah perempuan bernama Kartini yang sangat gemar membaca buku dan ingin bersekolah tinggi, tapi harus dipingit pada usia dua belas tahun untuk dipersiapkan menjadi istri bupati. Kartini memberontak sampai ia tidak disukai keluarganya sendiri.

Kartini sedari kecil sudah akrab dengan berbagai buku bacaan. Apa pun ia baca, mulai koran, majalah, serta buku dalam bahasa Belanda. Semenjak dipingit pada usia 12,5 tahun, otomatis tidak banyak hal yang bisa ia lakukan. Satu-satunya penghiburannya adalah membaca.

Sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, ternyata tidak menutup aksesnya untuk membaca, malah memberikan berbagai macam bacaan yang isinya masih cukup sulit untuk dicerna anak seusia Kartini. Begitu juga dengan kakak kesayangan Kartini , R.M. Kartono, yang hanya terpaut dua tahun usianya juga turut memberi beragam bacaan.

Tidak sekadar membaca, ternyata Kartini juga menganalisis isi bacaan kemudian ia tuangkan kembali dalam sebuah tulisan. Hal ini awalnya hanya diketahui sang kakak saja, baru belakangan adik-adiknya Roekmini dan Kardinah juga tahu soal kemampuan Kartini.

Selain film Kartini, ada beberapa fakta menarik tentang Kartini. Fakta-fakta ini semoga membangkitkan rasa hormat dan terima kasih kita, terutama kaum perempuan, kepada Kartini. Berikut beberapa fakta menarik tentang Kartini:

1. Kartini rela menikah dengan duda beranak tujuh agar ia diperbolehkan melanjutkan dan membangun sebuah sekolah di Rembang.

2. Kartini mengambil pengetahuan dari kaum elit Belanda, lalu diajarkan kepada perempuan-perempuan kelas menengah ke bawah.

3. Kartini pernah mengirim surat dan foto Paus dengan bingkai ukiran Jepara kepada Mr. Abendanon. Dia ingin menyampaikan bagaimana ia seorang muslim tapi menghargai perbedaan agama.

4. Kartini membumikan ajaran agama. Kartini pernah meminta hadiah kepada guru mengajinya, Syek Soleh Darat, agar semua ajaran agama diterjemahkan ke bahasa Jawa. Kartini ingin semua orang mudah memahami ajaran agama.

5. Kartini suka memasak. Kartini banyak menciptakan resep masakan. Di masa hidupnya, Kartini selalu memasak sebagai sarana negosiasi. Kartini memasak untuk diplomasi, untuk menunjukkan peradaban Jawa di mata Belanda.

6. Buku R.A. Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, adalah salah satu karyanya yang begitu dikenal sampai saat ini. Buku ini awalnya diberi judul “Dari Gelap Menuju Terang”. Buku ini berisi kumpulan surat-surat R.A. Kartini yang ditulis sahabat-sahabatnya di Eropa, dan disusun oleh J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, yang sekaligus salah satu sahabat pena R.A. Kartini pada saat itu.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY