ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016,
Para Finalis Terpilih dalam sesi foto bersama

ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016 merupakan sebuah ajang kompetisi business model yang sudah digelar untuk ketiga kalinya di Indonesia, dengan Jurusan Ilmu Admnistrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya sebagai penyelenggara resmi yang diakui secara internasional. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya sebagai pihak penyelenggara resmi, telah memiliki hak mengadakan BMC di tingkat ASEAN sebagai Qualifier Competition dan tercantum dalam web resmi IBMC (www.businessmodelcompetition.com), satu-satunya lembaga penyelenggara kompetisi di Indonesia. Qualifier competition dibentuk Business Model Competition di seluruh dunia, dimana pemenang yang melewati qualifier competitions akan secara otomatis melaju pada putaran quarterfinal International Competition di Harvard University. Kompetisi yang melibatkan para pengembang start-up dari kalangan anak muda di 6 negara ASEAN seperti Indonesia, Singapura, Vietnam, Malaysia, Thailand dan Filipina ini berlangsung cukup sengit. Bagaimana tidak?, panitia harus menyeleksi secara ketat sekitar 200 business model yang diajukan dari 6 negara untuk disaring kembali menjadi 30 business model yang berhak untuk mengikuti ajang ini. Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Bambang Supriyono mengatakan bahwa kompetisi ini bisa mendorong pionir-pionir muda ASEAN untuk mengembangkan bisnis mulai dari skala kecil, menengah maupun skala besar baik di dalam tingkat lokal, nasional, regional hingga internasional “Semoga ajang ini bisa mendorong mereka untuk mengembangkan bisnis model bukan hanya sekadar konseptual tapi juga sukses secara terapan untuk kemajuan nusa bangsa dan tanah airnya,” dalam sambutannya di Studio UB TV, Universitas Brawijaya (23/2).

Jacky Mussry, Senior VP & COO at MARKPLUS, INC sebagai pemateri sekaligus tim juri dalam acara ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016 | Dok. Inspirator Freak
Jacky Mussry, Senior VP & COO at MARKPLUS, INC sebagai pemateri sekaligus tim juri dalam acara ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016 | Dok. Inspirator Freak
Salah satu anggota tim panitia yang juga menjadi Dosen di FIA UB, Rizal Nirman menyebutkan bahwa kompetisi ini bukanlah kompetisi business plan pada umumnya. Rizal menegaskan kompetisi business model merupakan kompetisi yang lebih rumit dibandingkan business plan. “Selama ini yang sering diadakan adalah kompetisi business plan bukan business model. Kompetisi business plan terkadang tidak bisa menjawab kondisi nyata dalam sebuah industri, tidak bisa menjawab bagaimana sebuah bisnis itu bekerja,” ujar Rizal saat ditemui oleh Inspirator Freak di sela-sela acara (23/2). Rizal menambahkan bahwa tim juri tidak hanya melihat kualitas produk yang dihasilkan oleh peserta. Peserta juga dituntut untuk mampu memahami secara rill cara pemasarannya, memahami kondisi pasar yang serba dinamis. Peserta dituntut untuk membuat hipotesis untuk divalidasi melalui serangkaian uji coba langsung kepada customer mereka. “Apa yang kita coba dorong di kompetisi ini adalah mereka harus bisa mengonsep business model dengan baik, gak bisa kamu memutuskan ‘okey this is good, this product gonna be succeed in market’ begitu kan? ternyata gagal. Karena kecenderungan selama ini mereka melihat ‘ah produk saya ini paling bagus’ sementara market tidak peduli,” ujar Rizal. Salah satu tim peserta yang berasal dari UGM, tim Legend yang terdiri dari Nissa Amelia Pahlevy, Nindya Dini Pangestika, Bagus Avianto Putra Perdana, Fury Oktria Putra, serta Irfan Harris juga turut merasakan betapa sengitnya persaingan yang ada di dalam kompetisi ini. (Baca: 5 Sekawan dari UGM ini Kembangkan Aplikasi Mobile Pemantau Kesehatan Ibu Hamil) “Selama mengikuti acara ini tantangannya tahun kemarin aku juga ikut, disitu ada nasional dan internasional dan itu dibagi dua menjadi 10-10. Waktu kita kesini ekspektasi kita masih kayak tahun kemarin dan ternyata, waktu disini ada 30 besar yang hampir sepertiganya berasal dari luar negeri,” ujar Nissa saat ditemui oleh Inspirator Freak bersama rekan-rekan timnya seusai acara. Nissa menjelaskan bahwa persaingan berlangsung ketat karena seleksi yang dilakukan oleh tim juri. Ia mengatakan dari 200 business model, hanya 30 business model yang diterima, kemudian harus disaring lagi menjadi 10 business model, diseleksi lagi menjadi 3 business model hingga akhirnya dipilih 1 business model yang berhak mewakili ASEAN dalam quarterfinal International Competition di Harvard University. Selain itu Nissa juga mengakui produk-produk yang dihasilkan oleh tim-tim lain memiliki kualitas yang bagus. “Yang bikin kita mikir ini wah, produk-produk tim lain keren-keren banget, apalagi udah ada yang diimplementasikan. Dan mereka ada yang udah punya brand dimana-mana,” lanjut mahasiswi Teknik Industri ini.
Tim Legend yang mengembangkan aplikasi Prelite saat menerima penghargaan sebagai juara 2 dalam kompetisi ESPRIEX Business Model ASEAN 2016 di Universitas Brawijaya, Malang | Dok. Inspirator Freak
Tim Legend yang mengembangkan aplikasi Prelite saat menerima penghargaan sebagai juara 2 dalam kompetisi ESPRIEX Business Model ASEAN 2016 di Universitas Brawijaya, Malang | Dok. Inspirator Freak
Dalam kompetisi ini tim Legend dari UGM berhasil memperoleh juara 2 berkat aplikasi Prelite. Aplikasi yang dikembangkan oleh 5 sekawan ini diharapkan dapat menyajikan informasi lengkap seputar perawatan kehamilan ibu dan calon bayinya sekaligus merekam kondisi kesehatan para ibu hamil secara digital. Poin yang diperoleh oleh tim Legend hanya berbeda beberapa poin saja dari tim peserta Universitas Teknologi Malaysia (UTM) yang berhasil memperoleh juara pertama dengan produk gelang tangan yang bisa memonitor emosi anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa terpantau dengan baik oleh para orang tua dan guru. Keep Breathing Keep Inspiring Penulis  : Dylan Aprialdo Rachman Editor    : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY