Sumber: http://www.jjn.cz/

Oleh: Muhammad Latief Kapan terakhir Anda berbincang dengan orang asing dalam bahasa Inggris? Dengan tamu Anda, dengan klien bisnis, atau mungkin calon pacar bule Anda? Sejenak, ingatan melayang pada konsep English day. Bagaimana rasanya diolok-olok ketika Anda terbata-bata berbicara bahasa Inggris dengan teman komunitas “nginggris sehari” itu, lantaran Anda merasa menjadi minoritas dalam sebuah pergaulan? Boleh jadi, Anda akan diolok-olok lantaran bicara yang terbata-bata. Bahkan, Anda akan ditertawai, gegara salah memakaigrammar, atau vocabulary yang salah tempat. Bisa jadi pula, Anda mungkin dianggap sok. Sok nginggris, maksudnya, lantaran di sekeliling Anda semua memakai bahasa Indonesia, bahasa sehari-hari yang resmi. Di sisi lain, English day menjadi kewajiban komunitas Anda agar anggota komunitas ini tak lagi gagap berbahasa Inggris ketika berhadapan dengan orang asing yang jadi mitra bisnisnya atau sekadar lawan bicara. Tak ada lagi yang berbicara terbata-bata untuk menjawab bule yang seenaknya melontarkan pernyataan atau pertanyaan tanpa lebih dulu bertanya, “Can you speak English, Sir?”. Bak di neraka Tergagap-gagap. Mau ngomong satu kata saja tiba-tiba tertahan, ingin bicara panjang pun seketika buyar. Isi kepala serasa hilang entah ke mana. Raib! Mulut benar-benar terkatup, enggan terbuka. Lidah kelu, bikin bicara menjadi susah. Lalu, serasa langit mau runtuh, seisi ruang rapat seolah memperhatikan si pemilik mulut yang sedang susah berkata-kata. Pernah mengalami kejadian seperti itu ketika berhadapan dengan orang asing yang berbahasa Inggris? Atau, melihat teman kerja Anda seperti mati kutu saat tak siap ditanya atau berbicara dalam bahasa Inggris oleh bule-bule yang tak lain adalah klien bisnis Anda? Boleh jadi, tak semua orang mengalami hal itu. Sebaliknya, bisa jadi juga, sekali atau dua kali Anda atau teman Anda memang mengalami hal itu. Bukan, bukan maksud mengatakan Anda tak bisa berbahasa Inggris. Di Indonesia, sejak SMP hingga kuliah, mata pelajaran atau mata kuliah bahasa Inggris sudah pasti diajarkan. Dalam kultur akademik, semua orang Indonesia sejatinya punya kemampuan dasar berbahasa Inggris yang masuk dalam kurikulum pendidikan nasional. Namun, apa daya, itulah yang terjadi dan sudah menjadi rahasia umum. Mulut tak mau terbuka, susah mengeluarkan sepatah kata. Keharusan bicara dalam bahasa Inggris seperti bayang-bayang siksaan di neraka! Tentu, terbilang sangat beruntung orang-orang yang pernah mengenyam bangku kursus bahasa Inggris berbiaya mahal semasa duduk di sekolah dasar atau menengah (SMP dan SMA). Pun, terbilang sangat bernasib bagus bagi mereka yang duduk di bangku kuliahnya aktif memakai bahasa Inggris dalam menelusuri literatur bahan skripsi atau tugas-tugas kuliah dari dosennya. Namun, jujur saja, apa itu bikin Anda aktif berbahasa Inggris? Mungkin, nilai bahasa Inggris yang tertera di rapor SMA Anda tergolong biru alias di atas angka 7. Tetapi, sekali lagi, jujur saja, 10 atau 15 tahun kemudian, apa itu bikin Anda lancar nginggrisketika masuk di dunia kerja atau bisnis? Anda tak susah berbincang dengan tamu-tamu bule Anda? Urusan berbincang atau berbicara dalam bahasa Inggris memang tak selalu segendang seirama dengan angka-angka rapor atau ijazah. Dalam lingkup ilmu kebahasaan, bicara bahasa Inggris tak akan luput dari yang namanya speaking. Ada orang yang pintar menulis atau dalam arti menerjemahkan tulisan berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, tapi belum tentu lancar ketika harus mengungkapkannya lewat kata-kata. Lewat bahasa lisan. Speaking! Memang, tak semua orang suka speaking. Toh, belum tentu juga setiap hari orang bertemu orang asing atau bule sehingga merasa tak perlu bercakap-cakap semacam itu dengan rekan kerjanya. Boleh jadi, tak semua orang suka berbincang dalam bahasa Inggris. Toh, menulis atau membaca dalam bahasa Inggris menurunya sudah cukup dilakukannya baik. Pertanyaannya, apakah dengan bagusnya skil menulis dalam bahasa Inggris sudah pasti lancar dalam lisannya? Sudah pasti bisa dengan lancar speaking? Belum tentu! Memang, akan lain cerita dengan mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah atau kuliah di luar negeri. Mereka yang pernah merasakan betapa susahnya mendapat beasiswa kuliah ke Belanda atau Inggris pun pasti tahu urusan bahasa Inggris bukan cuma soal menulis, tapi juga berbicara. Speaking! Lalu, apakah terlambat untuk belajar nginggris ketika sudah berhadapan dengan dunia kerja atau bisnis? Bagaimana susahnya melawan gengsi lantaran sudah “bangkotan” tapi tetap dituntut bisa berbahasa Inggris yang lama tak dipakainya? Belum lagi, mahalnya biaya kursus di zaman sekarang. Lengkap sudah! (berlanjut ke “Berani Speak Up!”) Keep Breathing, Keep Inspiring! Sumber: Kompas.com Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

 

LEAVE A REPLY