Dunia Cecilia, Dialog Indah Surga dan Bumi

Novel Filsafat Dunia Cecilia
sumber gooreads.com

“Orang bilang, kita akan ke surga setelah mati. Benarkah?”
Malaikat Ariel mendesah,
“kalian semua sekarang sudah berada di surga.
sekarang, di sini. Jadi, sebaiknya
“kalian berhenti bertengkar dan berkelahi.
Sangat tidak sopan berkelahi di hadapan Tuhan.”

 

Dunia Cecilia adalah novel karya Jostein Gaarder yang merupakan novelis kebangsaan norwegia yang sekaligus penulis Dunia Sophie. Novel ini pertama kali dirilis pada tahun 1993 dengan nama I et speil, i en gåte lalu diterjemahkan kedalam bahasa ingris dengan judul Through a Glass, Darkly. Sampul depan buku ini terdapat kalimat singkat “Kisah indah dialog surga dan bumi”, sebuah kalimat singkat yang tentu membuat penasaran dan membut orang mudah tertarik. Sebelumnya buku ini memiliki judul Cecilia dan Malaikat Ariel lalu penerbit mengubahnya menjadi Dunia Cecilia, mungkin agar terlihat lebih seragam dengan novel karya Jostein Gaardner terbitan Mizan.

Terdapat dua tokoh utama dalam cerita ini yaitu Cecilia seorang gadis belia yang sedang sakit keras. Kedua yaitu Malaikat Ariel yang hadir menjadi jawaban atas kegelisahan Cecilia. Cecilia mengalami sakit keras yang tidak kunjung sembuh hingga pada akhirnya dia berkeluh kesah dengan Tuhan. Dia protes karena pada malam natal hanya bisa berbaring ditempat tidur sedang keluarganya merayakan natal diruang keluarga.

“Nyenyak tidurmu?”

Sebuah kalimat pembuka dari Malaikat Ariel kepada cecilia yang mengawali dialog surga dan bumi. Cecilia terbangun tiba-tiba mendengar suara yang entah darimana, lalu tanpa mereka sadari mereka telah larut dalam perbincangan beda dimensi tersebut. Ariel yang seorang malaikat begitu ingin tahu menjadi seorang manusia, makhluk fana yang diberi anugrah kehendak bebas dari Tuhan. Sedangkan Cecilia begitu tertarik dengan surga yang selama ini banyak di ceritakan oleh orang tuanya dan bertanya kepada Ariel tentang surga.

“Tahukah kamu, meskipun melihat manusia datang dan pergi, kami tidak tahu persis bagimana rasanya berwujud darah dan daging”

***

Sebenarnya banyak sekali dialog-dialog yang sangat folosofis. Sama seperti beberapa novel karya Jostein Gaardneer lainnya yang kental dengan aroma filsafat. Namun pada novel Dunia Cecilia ini lebih ditekankan aspek agama yang meskipun tidak terlalu terasa adanya unsur agama atau ceramah dalam novel ini. Dalam novel ini banyak menyinggung tentang proses penciptaan, Malaikat dan Tuhan.

Banyak sekali aspek positif yang bisa kita ambil maknanya dari novel ini. Namun secara subjektif saya menilai bahwa novel ini cukup membosankan dan kurang memiliki cerita yang greget. Sehingga butuh usaha lebih untuk mengumpulkan niat membaca novel ini. Jostein terlihat sangat cerdas membuat sebuah dialog untuk menceritakan makna dari buku ini. Sehingga terlihat perbedaan yang mencolok dan saling bertentangan antara Ariel dan Cecilia yang menggambarkan surga dan bumi.  Membaca novel ini menjadaikan kita lebih bersyukur dan menghargai hidup ini. Akal dan Kehendak Bebas yang dititipkan Tuhan kepada kita merupakan sebuah anugrah, Seperti yang dikatakan malaikat Ariel:

“Manusia sungguh beruntung diciptakan dan hidup! Betapa ajaibnya hidup itu!”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here