Kika: Elizabeth Adisti (Ketua Pelaksana Deep In The East) dan Paulus Ronald (Founder NTT Youth Project)

Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa. Kelak di tangan para pemuda masa depan Indonesia akan ditentukan. Sayang, tak semua generasi muda Indonesia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan secara layak, khususnya di Indonesia bagian timur. Data dari National Child Right Situasion Analysis menunjukkan ada 192.519 anak terlantar usia 5-18 tahun di pulau Nusa Tenggara Timur (NTT). Hanya 35,15% dari jumlah keseluruhan anak NTT yang mengenyam pendidikan SMA. Tak hanya di NTT, permasalahan hal yang sama pun terjadi dibeberapa daerah di Indonesia timur.

Berangkat dari  permasalahan inilah NTT Youth Project menggelar acara bertajuk Deep In The East: Cultures, Projects, and People di Museum Nasional, Jakarta Pusat.

“Acara ini digelar untuk membagi kekhawatiran dan optimisme dalam pengembangan Indonesia timur. Secara fakta di Indonesia timur kurang perhatian dari masyarakat dan pemerintah padahal mereka punya potensi dan anak-anak mereka adalah anak yang bertalenta,” ujar Elizabeth Adisti, Ketua Pelaksana Deep In The East.

Dalam talkshow Deep In The East, para penggiat organisasi/komunitas seperti Paulus Ronald Bogar Nono (NTT Youth Project), DR. Ayu Putu Eka, (SOS Children’s Village) dan Patrick Samuel (Alumni Pengajar Muda 9 Halmahera Selatan) berbagi pengalaman mereka selama berkegiatan sosial di Indonesia timur.

Paulus bercerita bahwa sejak TK hingga SMA di Maumere, Flores, NTT tidak begitu peka dengan keadaan di sekitar lingkungannya. Ia mulai meningkatkan kepekaannya terhadap beragam permasalahan yang nyata dan dekat ketika kuliah dan pulang ke Maumere kemudian mendiskusikan beragam pokok permasalahan yang ada dengan para pemuda di sana.

“Ternyata ada permasalahan yang nyata dan dekat, dimana pemuda bisa ikut andil dan menjadi solusinya yaitu pendidikan yang setara, kebebasan, kesehatan dan ekonomi. NTT itu banyak potensinya tetapi kurang diolah dan dijadikan sumber ekonomi karena berbagai permasalahan itu.” ungkap Paulus Ronald.

Paulus menegaskan bahwa kepulangannya ke tanah NTT merupakan bentuk feedback ilmu yang telah diperolehnya sekaligus pengabdian di tempat asal ia dibesarkan. “Saya ingin mengembangkan NTT lebih baik.” kata Paulus.

Sementara itu, berbeda organisasi namun memiliki tujuan yang sama untuk kemajuan NTT, SOS Children’s Village memulai ketika terjadinya gempa NTT di tahun 1992. Musibah gempa itu membuat anak-anak terpisah dari orang tuanya, dari situlah SOS Children Village memberikan konsep desa anak disana. Tahun 1995, SOS Children’s Village ke-5 dibangun di Maumere dengan 12 rumah keluarga SOS. “Kami membangun keluarga bagi anak yang kehilangan pengasuhan.” Ucap DR. Ayu Eka.

Dalam kesempatan yang sama, Patrick Samuel berbagi pengalamannya mengajar di Halmahera Selatan. Selama setahun mengajar disana, ia banyak menemukan realita pendidikan yang memprihatinkan seperti murid kelas 5 dan 6 SD yang belum bisa membaca, kekerasan yang dilakukan oknum guru, kurangnya tenaga pendidik serta kualitas dan kuantitas tenaga pendidik. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, terbentuklah Pemuda Penggerak Desa di Kabupaten Halmahera Selatan yang fokus memfasilitasi masyarakat setempat untuk turut mendukung pendidikan disana.

Selain talkshow permasalahan pendidikan anak-anak, ada pula talkshow potensi pariwisata, pameran foto keindahan alam timur Indonesia, donasi buku, tarian daerah, dan penampilan Voice Of Papua. Acara ini juga diramaikan oleh booth komunitas-komunitas yang peduli terhadap kehidupan dikawasan timur Indonesia. Diantaranya, Komunitas #untukPapua, Komunitas Arsitektur UI, Komunitas Kita Morotai, SOS Children’s Village, dan NTT Youth Project.

Inspirator Freak Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis: Ifa Ikah

Editor   : Dylan Aprialdo Rachman

Inspirator Freak

SHARE
Previous articleThailand Lawan Terberat Indonesia di MEA
Next articleSelayang Pandang ASEAN, Sejarah Pembentukan ASEAN (Bagian 1)

LEAVE A REPLY