Dee Lestari (kanan) dalam acara diskusi di ASEAN Literary Festival, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Menulis itu sebuah seni

Kalimat itulah yang terucap dari seorang penulis bernama Dewi Lestari yang menghasilkan berbagai macam karya-karya yang fenomenal serta mendapat perhatian sekaligus apresiasi dari masyarakat luas seperti Supernova, Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, Madre pada saat Inspirator Freak hadir menyimak cerita perempuan yang biasa akrab disapa Dee ini dalam ASEAN Literary Festival di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (5/7/2016). Dee menuturkan bahwa ketika ia memulai karirnya sebagai penulis, ia menceritakan jalan menuju kesuksesan dalam berkarir tidaklah mudah. Pada awal ia terjun dalam dunia penulisan, karya-karyanya hanya dinikmati oleh teman-teman sekitarnya. Sebagai seorang penulis, Dee menyarankan bahwa seorang yang ingin bekarya lewat tulisan haruslah memiliki pikiran dan tenaga yang kuat dalam melakukan eksplorasi bahan (riset) untuk membuat suatu karya. Melihat, membaca, mendengar dari berbagai macam referensi baginya menjadi sebuah keharusan agar membuat diri seseorang mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan menjadi pribadi yang fleksibel. Melihat sesuatu dari kulitnya saja bukanlah langkah yang cukup bagi seorang penulis, menurutnya seorang penulis atau seniman lain senantiasa harus terus tergerak memperdalam sesuatu, selalu berani mempertanyakan setiap hal.

Sumber: dewilestari.com
Sumber: dewilestari.com
Dee juga mengakui bahwa dirinya kerap mendapat cibiran dari berbagai pihak bahkan hingga kini pun cibiran itu masih menerpanya ketika karya-karyanya dipublikasikan. Namun bagi Dee cibiran merupakan sebuah fenomena tersendiri yang dianggap lumrah. Cibiran dan pujian dianggap sebagai Yin & Yang yang saling melengkapi dan membentuk keseimbangan. Memuaskan harapan semua orang baginya merupakan sebuah jalan untuk menciptakan rasa ketidakbahagiaan bagi diri sendiri, terkadang seorang seniman juga harus bersikap egois tidak menuruti semua yang diinginkan orang lain. “Seorang penulis akan menghadapi godaan seperti itu, apalagi ketika kita telah memiliki basis atau komunitas pembaca (penggemar) karya-karya kita, ‘oh banyak review yang bagus’ atau ‘ah saya ingin membahagiakan penggemar saya’, ujarnya. Berkarya bagi Dee harus dilakukan berdasarkan gerak hati diri sendiri, atas niat diri sendiri bukan menuruti begitu saja apa yang diinginkan orang lain. Justru sikap seperti itu akan menghambat seseorang dalam bekarya. Inspirator tentunya sepakat jika tulisan Dee selalu cerdas dan menginspirasi. Setiap kata yang dituliskannya mengandung makna. Kunci awal dalam bekarya menurut Dee adalah “kegelisahan”. Melalui kegelisahan seseorang akan tergerak untuk terus mencari kepastian, kejelasan, atau jawaban terhadap kegelisahan yang ada.  Ini terlihat dari nuansa pencarian, kegelisahan, anti kemapanan dan pendobrakan sangat kental terasa di dalam karya-karya Dee Lestari. Inspirator Freak Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Dylan Aprialdo Rachman Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

           

SHARE
Previous articleMedina Kamil, Travelling Itu Butuh Semangat Tak Terpatahkan
Next article7 Manfaat Menarik Donor Darah

LEAVE A REPLY