Jika kalian melewati kawasan Sarinah, Thamrin Jakarta Pusat, ada sebuah hotel artistik yang dindingnya dipenuhi oleh grafiti. Kamu akan melihat karakter Kong pada tembok hotel tersebut yang dibuat oleh Darbotz.

artotel_12
Sumber: obendon.com
Darbotz merintis karirnya sebagai street artist sejak SMA. Pada dekade 1990-an, anak-anak SMA di Jakarta sudah membikin kelompok-kelompok geng. ”Zaman segitu sudah ada geng-gengan. Saat itulah saya mulai kenal cat Pylox,” kata Darbotz seperti di kutip Jawa Pos. Pria dengan perawakan tinggi besar tersebut bisa dikatakan sebagai sosok yang ramah dan kocak, namun anehnya ia sendiri tidak mau dikenal secara terbuka. Dia pun tidak bersedia menyebut nama aslinya. ”Cukup panggil saya Darbotz,” ujarnya. ”Nama asli saya tidak penting,” imbuhnya. Darbotz juga tidak pernah mau difoto dengan menunjukkan wajah seutuhnya. Dia selalu menutupi bagian mulutnya yang bercambang dengan telapak tangan atau kain. ”Biar orang lebih kenal karya saya daripada sosok saya. Kalau mau lihat saya, ketemu saja langsung,” ujarnya sambil tertawa.
darbotz
Sumber: Ghiboo.com
Tidak hanya di Tanah Air, nama Darbotz juga sudah melegenda hingga ke dunia internasional loh! Karya-karyanya menghiasi berbagai sudut jalanan ibukota, galeri-galeri hingga ruang publik lainnya. Tahun 2014 lalu, salah satu grafiti buatan Darbotz sudah ada yang mejeng di kota-nya seniman dunia yang penuh coretan artistik di jalannya, Melbourne, Australia. Saat itu ia bekerja sama dengan desainer Monica Lim dengan label Fame Agenda. Di depan gedung kawasan Swanston Street, Darbotz menggambar monster ciri khas andalannya di depan pengunjung. Di saat yang bersamaan Monica menggelar peragaan busana. Karakter monster tetap dipakai seniman yang juga memiliki clothing line bernama KONG ini. “Karakter alter ego gue selalu ada di karya-karya yang gue bikin,” ungkapnya beberapa waktu yang lalu. Karakter alter ego yang diucapkan pendiri seni jalanan terbesar di Indonesia atau Tembok Bomber ini berbentuk cumi. Karakter tersebut dinilainya memiliki sifat yang keras dan tangguh seperti ibukota Jakarta yang sangat dicintainya.
IMG_8872
Sumber: www.gogirlmagz.com
Selama 15 tahun ini, sepanjang karier seninya, Darbotz terbiasa menggunakan warna-warna hitam, putih, dan abu-abu. Tapi ia mengakui belakangan ini sedang suka memakai warna lain. “Belakangan ini enggak tahu kenapa gue pake warna biru. Padahal kan biasanya tiga warna itu. Kayaknya lagi suka dan eksplor warna saja,” ungkap Darbotz.
Sumber: http://allthoseshapes.com/
Street artist yang sehari-hari beraktivitas di Jakarta ini ternyata menyukai kemacetan dan lalu lintas yang ribet seperti di Jakarta. Baginya kondisi urban ibukota membuatnya terinspirasi dalam menciptakan grafiti. Uniknya, ia tidak pernah menyisipkan tanda tangan sebagai identitas pembuat. Serta selalu menutup sebagian wajahnya jika dipotret oleh sebagian orang, termasuk ketika diwawancara maupun jumpa pers. Karya grafiti Darbotz sudah dipamerkan di berbagai pameran internasional. Di antaranya Singapura, Malaysia, Hongkong, Australia sampai Perancis. Bahkan salah satu karyanya dikoleksi oleh Mizuma Gallery, Singapura. Rencananya, pertengahan tahun ini, Darbotz akan menggelar pameran kolektifnya di Filipina. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Fajar Nugraha Wahyu Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

 

LEAVE A REPLY