Christian Dicky Senda: Sastrawan Muda Dari Mollo Utara
foto: dedeaton.blogspot.com

Di tengah rendahnya budaya literasi di Indonesia, kemunculan penulis-penulis muda memberikan optimisme baru. Christian Dicky Senda salah satunya. Melalui karya sastranya, pemuda asal Mollo Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjadi penggiat literasi di daerahnya. Yuk, kenalan lebih jauh dengan Inspirator yang satu ini!

Perjalanan literasinya berawal saat SMP, Dicky mulai menulis catatan harian dan puisi. Sampai suatu ketika ia membaca karya Ayu Utami dan Dewi Lestari yang akhirnya membuatnya tertarik untuk menulis cerpen. Ia pun aktif menulis di blog sehingga karyanya dibaca dan diapresiasi, bahkan beberapa kali lolos seleksi di Makassar International Writers Festival. Tahun 2011 ketika kembali dari Jogja ke Kupang, ia bertemu dengan komunitas sastra Dusun Flobamora.

“Ini komunitas yang penting dalam karir kepenulisan saya. Saya lebih percaya diri untuk mempublikasikan karya saya, ditambah ruang diskusi, apresiasi, dan kritik yang terbangun dengan sangat baik. Saya sangat termotivasi untuk membaca lebih banyak karya sastra dan itu penting bagi penulis pemula seperti saya,” ungkapnya.

Sampai saat ini Dicky sudah menerbitkan buku puisi Cerah Hati dan buku kumpulan cerpen, antara lain Kanuku Leon, dan Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi. Tentang cerpen karyanya yang banyak mengangkat kisah tentang kehidupan orang NTT, Dicky beralasan bahwa ia sangat suka menggali mitos dan dongeng lokal serta latar belakang keluarganya yang berasal dari suku Lio, Flores.

“Sejak kecil saya terbiasa mendengar berbagai kisah dari ayah dan ibu saya, tak ada lagi batasan fakta atau fiksi, dongeng dan mitos atau kisah nyata. Semua bergulir begitu saja sebagai cerita di sela aktivitas minum teh, memasak atau makan bersama. Barangkali karena kebiasaan itulah sejak kecil imajinasi bertumbuh dan berbunga-bunga, hehehe. Semua cerpen di buku itu ditulis lepas tanpa beban,” ujar penulis yang terpilih dalam program Asean Literary Festival ini.

Kumpulan cerpen karya Christian Dicky Senda (foto: Dicky)
Kumpulan cerpen karya Christian Dicky Senda (foto: Dicky)
img_0584-copy
Asean Literary Festival 2016

Optimisme Literasi di NTT

Setelah 5 tahun bergiat di beberapa komunitas di Kupang, Dicky merasa saatnya ia pindah dan membangun jejaring baru. Tugasnya adalah memperkenalkan teman-temannya di kampung dengan jejaringnya di Kupang atau di Jawa.

“Keran kesempatan itu harus dibuka, biar airnya juga dirasakan oleh orang lain. Membangun perpustakaan kampung dan ruang berkumpul adalah cara paling mudah dan memungkinkan untuk mengumpulkan kawan-kawan saya di kampung.”

Dicky mengaku optimis dengan apa yang terjadi di NTT paling tidak di waktu 5 tahun terakhir. Di kalangan generasi muda misalnya, muncul banyak sekali komunitas sastra, klub buku, komunitas penyalur buku-buku bacaan gratis, kelas menulis kreatif, diskusi hingga festival sastra.

“Munculnya banyak penulis muda di kancah lokal maupun nasional dengan karya yang segar dan beragam tema, turut memperkuat rasa optimisme saya. Didukung pula oleh pemerintah misalnya lewat Badan Bahasa NTT yang saya lihat cukup serius menggalakkan gerakan literasi di NTT bekerja sama dengan kampus dan sekolah-sekolah, dengan komunitas sastra hingga para penulis. Dan yang lebih penting sebenarnya adalah munculnya gelombang pembaca dan apresiator dari sesama orang NTT sendiri.” tutupnya.   K

eep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis: Ifa Ikah

Editor  : Siti Ayu Handayani

Inspirator Freak

 

LEAVE A REPLY