Big Data Di Pusaran Internet of Things–Baca Maksudnya Di Sini Supaya Kamu Tidak Pening

Foto: nova-praxis.com
Big Data concept with icons

Istilah “Big Data”, sama seperti istilah Industri 4.0, Internet of Things, Artificial Intelligence, dan Augmented Reality, akan semakin sering kita dengar atau baca di media massa pada hari-hari mendatang. Sebagai istilah yang belum populer, makna sebenarnya Big Data menimbulkan kebingungan banyak orang. Konsep ini sesungguhnya terus berevolusi dan dipertimbangkan kembali karena menjadi tenaga penggerak di balik banyak gelombang transformasi digital. Gelombang yang dimaksud termasuk Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), data science (ilmu data), dan Internet of Things (Internet segala).

Lalu, apa sebenarnya Big Data dan bagaimana ini mengubah dunia kita?

Pertumbuhan Big Data sungguh mencengangkan. Ini diawali dengan ledakan jumlah data yang kita hasilkan sejak kelahiran zaman digital. Kondisi ini terutama karena peningkatan jumlah dan kapasitas komputer, Internet, dan teknologi yang mampu menampung data dari dunia tempat kita tinggal saat ini. Data sendiri bukanlah penemuan baru. Jauh sebelum ada komputer dan database, manusia merekam data di kertas, catatan pelanggan, dan file arsip–yang semuanya disebut data.

Komputer, khususnya lembar kerja dan database, memberi kita cara untuk menyimpan dan mengorganisasi data pada skala besar, dengan cara yang mudah diakses. Lalu, tahu-tahu informasi bisa seketika tersaji hanya dengan mengeklik mouse.

Hampir semua manusia menciptakan data digital

Saat ini, setiap dua hari manusia menciptakan data yang jumlahnya sama besar dengan data yang dihimpun sejak awal masa hingga tahun 2000. Dua hari sekali, bayangkan. Dan jumlah itu terus meningkat dengan kecepatan mencengangkan. Pada 2020 nanti, jumlah informasi digital yang tersedia akan meningkat dari sekitar 5 zettabytes saat ini menjadi 50 zettabytes. (Catatan: zettabytes adalah unit informasi yang setara 270 bytes.) Bayangkan betapa besarnya angka ini.

Zaman sekarang, hampir setiap aktivitas daring yang kita lakukan meninggalkan jejak digital. Manusia menciptakan data setiap kali melakukan aktivitas secara online, membawa smartphone yang dilengkapi GPS, saat berkomunikasi dengan kerabat dan teman melalui media sosial atau aplikasi perpesanan, bahkan saat kita berbelanja. Singkat kata, kita meninggalkan sidik digital di semua kegiatan kita yang melibatkan aksi digital. Itu berarti hampir segala kegiatan.

Foto: beeva.com

Jumlah data yang dihasilkan mesin-mesin juga bertambah dengan pesat. Data tercipta ketika perangkat “cerdas” di rumah kita berkomunikasi satu sama lain atau dengan server induknya. Mesin-mesin industri di pabrik-pabrik di seluruh dunia semakin diperlengkapi sensor yang mengumpulkan dan meneruskan data.

Big Data merujuk pada kumpulan semua data ini dan kemampuan manusia untuk menggunakannya untuk keuntungan kita di bidang yang cakupannya sangat luas, termasuk di bidang bisnis.

Bagaimana cara kerja Big Data?

Big Data bekerja berdasarkan prinsip bahwa semakin banyak seseorang tahu tentang sesuatu atau suatu situasi, semakin bertambah keyakinan orang itu bisa mendapatkan wawasan baru dan membuat prediksi tentang apa yang terjadi di masa depan. Dengan membandingkan lebih banyak titik data, kaitan demi kaitan yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul. Kaitan-kaitan ini memampukan seseorang untuk mempelajari dan membuat keputusan yang cerdas. Hal ini paling umum dilakukan melalui proses yang mencakup membangun model, berdasarkan data yang bisa dikumpulkan. Setelah itu melakukan simulasi, sambil terus mencuil titik data dan memantau bagaimana hal ini memberikan pengaruh kuat pada hasil yang kita dapatkan. Proses ini terjadi secara otomatis. Teknologi analisis yang sudah maju akan menjalankan jutaan simulasi ini, mencuil semua variabel yang mungkin hingga menemukan pola–atau pengetahuan–yang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Hingga relatif baru-baru ini, data terbatas pada lembar kerja atau database–semua ini sangat teratur dan rapih. Semua yang tidak dengan mudah terorganisasi menjadi baris dan kolom terlalu sulit untuk dibereskan, maka diabaikan. Tetapi, dengan kemajuan dalam hal penyimpanan dan analisis berarti kita bisa mengumpulkan, menyimpan, dan membereskan banyak sekali tipe data berbeda. Hasilnya, saat ini “data” bisa berarti apa saja mulai dari database hingga foto, video, rekaman suara, teks tertulis, dan data sensor.

(Sumber: bernardmarr.com)

Ingin tahu lebih banyak tentang topik terkait? Baca Selamat Datang Era Industri 4.0 dan industri seperti apa tantangan dan keuntungan mengadopsi model Industri 4.0.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here