Max dalam Konser Jazz Musical Amicus (foto: dokumentasi Viriya Paramitha)

Cicak-cicak di dinding Diam-diam merayap Datang seekor nyamuk Hap! Lalu ditangkap! Penggalan lirik lagu ini bukanlah sekadar lagu anak kecil yang dinyanyikan tanpa arti. Lagu cicak di dinding merupakan bagian dari aksi sosial Max Andrew Ohandi, Aktivis Anak Dengan HIV dan AIDS (ADHA) dalam mensosialisasikan HIV/AIDS kepada anak-anak. Mendongeng adalah salah satu cara untuk menanamkam informasi yang tepat mengenai HIV/AIDS kepada anak-anak untuk mengubah stigma yang sudah berkembang di masyarakat terkait penyakit tersebut. Lalu apa hubungannya antara HIV/AIDS dengan lagu cicak didinding? Yuk, kita cari tahu Inspirator! Max Andrew mencoba menjelaskan tentang penularan penyakit yang ditemukan pada tahun 1983 ini dari perspektif yang berbeda. Seekor nyamuk yang terkena virus HIV/AIDS termakan oleh cicak. Apakah cicak tersebut akan tertular virus HIV/AIDS? Bagaimana jika nyamuk itu menghisap darah manusia? Apakah virus HIV/AIDS akan menular juga pada manusia yang digigit nyamuk tadi? Jawabannya “tentu tidak”. Virus HIV/AIDS tidak bisa hidup di luar tubuh manusia. HIV/AIDS hanya bisa tertular lewat darah, cairan kelamin, ASI, dan jarum suntik yang tidak steril. Bukan melalui sentuhan dan udara, maupun lewat nyamuk.” jelas Max kepada Inspirator Freak.

Max Andrew Ohandi saat berdongeng di Festival Anak (foto: Dokumentasi Max)
Max Andrew Ohandi saat berdongeng di Festival Anak (foto: Dokumentasi Max)
Max mengisahkan awal kepeduliannya terhadap ADHA saat Ia melakukan pelayanan di yayasan peduli anak jalanan, Kampus Diakonia Modern (KDM). Sebagai aktivis, Max melakukan pencarian ADHA, serta menyediakan konsultasi dan pelayanan di jalanan. Dari situlah Max mendapatkan info bahwa ada seorang anak jalanan yang yatim piatu di kawasan Jakarta Utara terkena HIV/AIDS. Bersama teman-teman relawan, ia mendatangi dan mengobrol dengan nenek ADHA. “Saya dan teman-teman sempat kesulitan menjawab pertanyaan neneknya sebab kebanyakan kasus HIV/AIDS terjadi pada orang dewasa. Saya searching di internet pun jarang muncul artikel terkait  kasus anak-anak yang terkena HIV/AIDS, yang banyak hanya informasi mengenai kasus HIV dan AIDS pada orang dewasa.” ungkap pendiri Yayasan Budaya Mandiri ini.
Max dalam Konser Jazz Musical Amicus (foto: dokumentasi Viriya Paramitha)
Max dalam Konser Jazz Musical Amicus (foto: dokumentasi Viriya Paramitha)
Minimnya informasi tentang ADHA serta cara penanganannya, membuat Max kemudian melakukan penelitian dan mengumpulkan informasi dari beberapa aktivis HIV/AIDS, dokter, dan penderita HIV/AIDS. Hasil penelitiannya terangkum dalam buku Giving Empathy.  Kepeduliannya tak berhenti sampai disitu saja, bersama teman-teman peduli HIV/AIDS, Max menggelar Konser Jazz Musical Amicus untuk menggalang dana. Max pun aktif bercerita ke sekolah-sekolah dasar dan festival anak untuk menginformasikan tentang virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia ini. “Awalnya saya berfikir orang HIV dan AIDS itu orang yang berdosa dan melakukan seks bebas. Setelah melakukan penelitian, saya kaget ternyata ada anak yang terkena HIV dan AIDS dari ibunya. Dari situlah saya sadar dan mulai berempati.” ujar lelaki lulusan Universitas Negeri Jakarta ini. Max pun menekankan pentingnya pengetahuan tentang HIV dan AIDS dilakukan sedini mungkin, agar stigma buruk penyakit tersebut memudar sehingga mengurangi sikap diskriminasi pada penderitanya. Selain itu, kepedulian dan empati yang diberikan kepada penderita HIV dan AIDS akan berdampak sangat besar pada kehidupan mereka. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis: Ifa Ikah Editor: Kintan Lestari   Inspirator Freak Twitter : @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articleFilosofi Kopi : Mencari Kopi Hingga Pelosok Indonesia
Next articleYuk Mengenal Bahasa di Berbagai Negara ASEAN!

LEAVE A REPLY