Pagi, Inspirator! Pasti tahu karakter film Thor kan? Tahu nama pemerannya kan? Yap, Chris Hermsworth! Aktor yang lahir dan besar di Australia ini, saat promosi film terbarunya The Avengers: Age of Ultron beberapa waktu lalu sempat diwawancarai selebriti dalam negeri yakni Cinta Laura. Ketika mengetahui bahwa Cinta berasal dari Indonesia, Hermsworth merespon dengan beberapa kali mengucapkan kalimat berbahasa Indonesia seperti ‘Apa kabar?’, ‘Siapa namamu?’, dan ‘Bagaimana cuaca hari ini?’ dengan fasih loh! Kok bisa sih? Jangan heran! Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah di Australia. Inspirator tentu masih ingat peristiwa pengukuhan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi bumi pertiwi ini kan? Ya! Tepat pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda di zaman itu mengadakan kongres dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda yang salah satu poin pentingnya adalah menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Memasuki era ASEAN Community, terutama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi bahasa resmi ASEAN. Hal ini ditunjukkan dengan adanya usulan dari delegasi RI untuk Asian Inter Parliamentary Assembly (AIPA) 2011 di Kamboja. Kesungguhan untuk merealisasikan wacana tersebut diperkuat dengan ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kedua di Ho Chi Minh City, Vietnam pada Desember 2007. Salut! Dalam kawasan regional ASEAN, bahasa Indonesia sering dipakai sebagai bahasa sehari-hari di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina. Selain itu, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tersebar luas di berbagai negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Australia, Kuwait dan negara-negara lain secara tidak langsung menjadi ‘agen’ yang menjembatani penyebaran bahasa Indonesia. Di luar lingkup ASEAN, ternyata bahasa Indonesia yang mulai ditelantarkan di tanah air sendiri ini telah diapresiasi di lebih dari 45 negara! Seperti yang disampaikan oleh mantan Kepala Pusat Bahasa di Kementerian Pendidikan, Dendi Sugondo bahwa perguruan tinggi di puluhan negara itu membuka pembelajaran bahasa Indonesia tanpa rekomendasi dari pihak manapun. Beberapa faktor timbulnya minat untuk belajar bahasa Indonesia yaitu terkait kondisi sosial, politik, budaya dan alam pertiwi yang menarik. ‘Ah, bahasa Indonesia kan gampang! Bisa disingkat-singkat, apalagi sekarang jamannya bahasa alay. Mending belajar bahasa Inggris, Perancis atau Korea biar ntar kalau ketemu Lee Min Ho nggak cuma bisa selfie tapi juga ngobrol cantik!’. Pernah kepikiran seperti itu? Enggak salah, kok. Tetapi sebagai anak muda penerus generasi bangsa, alangkah baiknya jika kita menyampaikan rasa terima kasih kepada tanah air tercinta ini dengan menjunjung bahasa Indonesia dan meningkatkan nasionalisme. Memang apa sih untungnya bahasa Indonesia jadi bahasa global? Banyak! Pertama, ikatan nasionalisme dan kebanggaan bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kian kokoh. Kedua, dari segi budaya, karakter rakyat Indonesia yang santun, ramah, rendah hati dan berluhur budi semakin mendapat pengakuan dunia. Ketiga, posisi tawar bangsa Indonesia akan semakin tinggi di mata dunia. Keempat, dengan semakin mengglobalnya bahasa Indonesia menjadikan Indonesia sebagai ‘aktor’ peradaban dunia yang terhormat dan bermartabat. Kelima? Terkait dengan IPTEK tentunya. Dengan diakuinya bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional, dengan sendirinya bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu pengetahuan di berbagai negara. Apakah setelah ini Inspirator masih malu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kalau iya, coba bandingkan dengan negara Jepang. Walaupun kemajuan teknologi di negara itu berkembang pesat, tetapi penduduknya tetap menjunjung tinggi bahasa ibu mereka. Last but not least, boleh kok kita mempelajari bahasa asing. Boleh banget. Asal, sebelum terampil menulis huruf Hiragana, Katakana atau Hangeul, perbaiki dulu struktur tulisan bahasa Indonesia. Sebelum logat bicara berubah jadi ‘kebulean’, fasihkan dulu pengucapan kata dalam bahasa Indonesia. Jangan sampai kita menjadi seperti kacang yang lupa kulit. Keep in mind, language is our identity. Bahasa itu menunjukkan bangsa. Bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari 2016, yuk Inspirator banggakan diri dalam menggunakan bahasa ibu kita sendiri. Keep Breathing, Keep Inspiring! Sumber: (Diolah dari berbagai sumber) Penulis : Lisa Angelia Editor   : Nindya Kharisma Cahyaningtyas Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

         

LEAVE A REPLY