ilustrasi : fimela.com

Informasi yang tepat adalah salah satu kunci untuk menyehatkan masyarakat, inspirator. Sayangnya, selama ini masih banyak lho mitos kanker anak di sekitar kita, yang perlu diluruskan kebenarannya. Dengan kita mengetahuinya, upaya pemberantasan kanker pada anak dapat semakin fokus, serta menurunkan jumlah kematian kanker dan munculnya kasus baru. Dalam memperingati Hari Kanker Anak yang jatuh pada hari ini, berikut lima mitos dan fakta menarik mengenai kanker anak, seperti dikutip dari laman Childhood Cancer International.   Mitos: Anak yang menderita kanker dan survivor kanker, dianggap sebagai pembawa penyakit

http://fudaindonesia.com
http://fudaindonesia.com
Fakta: Kanker anak itu tidak menular, bukan juga virus yang dapat disebarkan atau ditularkan melalui pergaulan.  Jadi, aman bagi anak dan remaja lain untuk bermain, bersosialisasi, dan bergaul dengan anak penderita kanker dan para survivor kanker anak. dr. Mururul Aisyi, SpA dari Rumah Sakit Kanker Dharmais mengatakan, kanker dapat menyebar melalui berbagai cara, dengan menjalar ke jaringan di sekitarnya dan menyebar lewat aliran darah. Namun, proses pembentukan sel kanker tidak berjalan begitu saja inspirator. Karena di dalam tubuh, sudah ada semacam ‘polisinya’ agar sel tidak mudah menjadi kanker.   Mitos: Survivor kanker anak, tidak dapat mempunyai keturunan saat ia dewasa
http://health.liputan6.com
http://health.liputan6.com
Fakta: E Adams dari Universitas Oxford Brookes, Inggris dan British Journal of Cancer (2013) menyebut, 1 dari 10 kasus kanker ternyata terjadi di usia reproduksi. Dari hal tersebut, banyak persepsi mengenai para survivor kanker anak, bahwa mereka tidak bisa memiliki keturunan ketika sudah dewasa dan menikah. Ada beberapa survivor kanker anak yang mungkin mengalami tantangan dalam hal kesuburan, begitu pula dengan kesehatan reproduksi. “Namun bukan berarti tidak bisa memiliki anak. Setelah mereka memasuki usia siap menikah, mereka bisa menggunakan inseminasi atau teknologi pengawetan kesuburan (fertility preservation)” jelas dr.Mururul.   Mitos: Survivor kanker anak umurnya pendek CXGv7RvUwAAhRNi Fakta: Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith – Steve Jobs Manusia bukanlah makhluk yang bisa menentukan berapa lama lagi waktunya untuk terus menikmati hidup. Dikutip dari Daily Mail, Senin (9/3/2013), Asisten Profesor Kedokteran di Dana-Farber Cancer Institute sekaligus penulis utama penelitian, Dr Alexi Wright melakukan penelitian dengan melibatkan 386 orang pasien yang mengalami sakit kanker. Wright menyebut 65% mereka, rata-rata meninggal empat bulan setelah melakukan kemoterapi. Namun, penurunan harapan hidup bergantung pada beberapa faktor, salah satunya seberapa dini penyakitnya didiagnosis dan ketepatan pengobatan. Buktinya, banyak survivor kanker anak yang hingga saat ini dinyatakan bebas kanker dan mampu melanjutkan hidup secara normal.   Mitos: Survivor kanker anak pada umumnya berprestasi rendah di sekolah Fakta: Anak yang menderita sakit kanker kerap dianggap berprestasi rendah di sekolah. Penelitian mengungkap dua dari tiga survivor kanker anak, mengalami efek samping setelah berakhirnya pengobatan. Namun efek samping itu belum tentu memengaruhi kemampuan kognitif dan belajarnya.
Love Donation 2016
Love Donation 2016
Contohnya seperti Zahir, si kecil yang belum genap berusia 4 tahun ini sangat piawai dalam memainkan wayang kulit bak seorang dalang profesional, membuat semua orang yang ada di sekelilingnya sangat kagum. Di saat anak seusianya lebih menyukai ragam tokoh kartun dan lainnya, adik kecil penderita leukemia yang memiliki nama lengkap Zahir Tama Gunadia ini lebih cinta dengan kebudayaan Indonesia. Luar biasa! Bahkan bicara pun belum lancar, tetapi Zahir mampu hafal nama-nama tokoh pewayangan dan cerita yang dilakonkan. Begitu cintanya terhadap wayang kulit, bahkan apa yang dilakukannya Zahir selalu meniru tokoh kesayangannya, Wisanggeni, yang digambarkan sebagai laki-laki baik hati, kuat dan ganteng.   Mitos: Survivor kanker anak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi
http://ibunda.id
http://ibunda.id
Fakta: Mereka yang terkena kanker biasanya akan merasa ketakutan dan kebingungan atas vonis kanker yang ada di tubuhnya, terlebih lagi jika hal itu dirasakan oleh anak-anak. Ini bisa membuat mereka menjadi lebih sensitif dan stres. Coba untuk membuat mereka merasa memiliki pendamping yang menyenangkan, seperti lebih sering diajak bermain dan jalan-jalan agar intensitas bertemu dengan orang lain menjadi sering terjadi sehingga  secara otomatis mengembalikan percaya dirinya. “Lebih tergantung bagaimana membawa diri dan bergaul. Kalau penderita kanker positif maka orang yang melihat juga positif,” ujar Nimas, survivor kanker anak, yang saat ini menjadi mahasiswi semester 7 di jurusan Ilmu Gizi Universitas Indonesia. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Rianda Rizky Permata Editor   : Arief Alqori Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook: facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY