ASEAN Literary Festival
Okky Maddasari dan Abdul Khalik, pendiri Asean Literary Festival (sumber: Aseanliteraryfestival.com)

Berangkat dari sebuah kesadaran akan kurangnya pengetahuan terhadap sastra dan sastrawan dikawasan ASEAN, Rumah Muara bersama Muara Foundation menggagas ASEAN Literary Festival. Festival sastra tahunan itu mempertemukan para sastrawan tak hanya dari kawasan ASEAN tetapi juga dari berbagai negara seperti Australia, China, Jepang, Eropa dan Amerika.

Sumber: aseanliteraryfestival.com
“meski berada dikawasan ASEAN, kita tidak saling mengenal sastrawan di ASEAN. Padahal disaat yang sama kita lebih mengenal sastrawan Amerika, Prancis, Inggris dan Rusia. Itu sebuah ironi apalagi tahun ini kita menjadi satu komunitas dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).” tutur Okky Maddasari, salah satu pendiri ASEAN Literary Festival. Memasuki tahun ketiga sejak berdiri pada 2014, ASEAN Literary Festival (ALF) akan kembali digelar di Jakarta pada 5-8 Mei 2016. Mengusung tema “The Story of Now”, ALF 2016 akan mengangkat isu-isu kekinian mulai dari ekstrimisme, lingkungan, hingga kebebasan berekspresi, dan kaitannya dengan karya sastra serta bagaimana sastrawan, seniman, para intelektual bisa mengambil peran dalam perkembangan terkini yang terjadi di tingkat regional maupun internasional.
Okky Maddasari dan Abdul Khalik, pendiri Asean Literary Festival (Sumber: aseanliteraryfestival.com)
Okky Maddasari dan Abdul Khalik, pendiri ASEAN Literary Festival (Sumber: aseanliteraryfestival.com)
Festival akan berlangsung selama empat hari dengan diawali program residensi bagi penulis dari negara-negara ASEAN, Timor Leste, dan Jepang selama sepuluh hari di sebuah kampung di Jakarta Selatan dari tanggal 29 April 2016. Dengan dukungan penuh dari Japan Foundation, program residensi yang juga akan menjadi kegiatan tahunan ini bertujuan untuk merekatkan hubungan dan membuka pertukaran ide dan pengetahuan antar penulis di negara-negara ASEAN dan negara sahabat. Program residensi yang dirancang dalam bentuk tinggal bersama masyarakat di Kampung Muara di Jakarta sekaligus ingin memberikan kesempatan kepada penulis untuk melihat dan mengalami langsung kehidupan masyarakat di salah satu negara ASEAN. “ASEAN Literary Festival percaya dengan berinteraksi langsung bersama masyarakat, penulis bisa menghasilkan karya-karya yang relevan dengan masalah yang ada dalam masyarakat kita dalam semangat kemanusiaan,” kata Direktur ASEAN Literary Festival, Abdul Khalik. Dalam residensi ini, peserta akan mengasah kemampuan menulis melalui diskusi, workshop, dan interaksi bersama warga masyarakat. Selain itu juga ada program mengenal Jakarta, mengunjungi sekolah-sekolah negeri di Jakarta, dan berbagai kegiatan lain terkait pertukaran kebudayaan. Kampung Muara merupakan salah satu kampung di Jakarta Selatan yang masih asri dengan penduduk mayoritas Betawi dan terletak di pinggir Sungai Ciliwung. Program ini juga ingin mendekatkan penulis dan masyarakat pada lingkungan dan menghadirkan kesadaran untuk melestarikan lingkungan baik melalui karya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Program residensi ASEAN Literary Festival ini terbuka untuk penulis dari sepuluh negara ASEAN, Timor Leste, dan Jepang, yang berusia dari 18-40 tahun. Untuk melamar program ini, calon peserta hanya cukup mengirimkan karya baik yang sudah dipublikasikan ataupun yang belum dipublikasikan ke sekretariat ASEAN Literary Festival. Untuk info lebih lanjut kunjungi www.aseanliteraryfestival.com atau hubungi Ikhsan (081909462037). Salam literasi! Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Ifa Ikah Editor   : Nindya Kharisma Cahyaningtyas Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak Instagram : @inspiratorfreak web : www.inspiratorfreak.com LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY