Anne Avantie 'Si Kartini Kebaya'
Ilustrasi

Bukan hal mudah menjalani kariernya hingga mencapai ke titik saat ini dan dikenal sebagai perancang busana kebaya yang kondang. Anne Avantie 61 tahun lalu, Anne Avantie terlahir sebagai gadis Semarang dari orang tua yang keturunan Tionghoa. Anne dibesarkan dari seorang ayah, Hari Alexander, yang memiliki usaha variasi mobil, sedangkan ibunya, Amie Indriati, memiliki usaha salon. Sepertinya bakatnya tidak jauh berbeda dengan keterampilan sang Ibu di bidang mode, saat masih sekolah dasar, Anne telah menunjukkan kreatifitasnya dengan membuat berbagai pita/hiasan rambut untuk dijual ke teman-temannya. Perempuan yang belum pernah merasakan ijazah SMA ini memulai perjalanan kariernya dengan membuka bengkel jahit di sebuah rumah kontrakkan. Saat itu, ia hanya memiliki dua buah mesin jahit dan bengkelnya diberi nama Griya Busana Permatasari. Kariernya tidak berjalan mulus, ia pernah tertipu langganannya, dicaci maki oleh debt collector (penagih utang), menghadapi tuntutan para kliennya, hingga berhadapan dengan penyitaan Bank. Bahkan saat Anne jatuh pun tidak ada pemilik toko bahan-bahan pakaian yang mengijinkannya ‘berhutang’ ditokonya. Meskipun dikenal sebagai perancang busana, Anne Avantie bukanlah seorang yang pandai menggambar sketsa rancangan yang akan ia buat untuk kliennya. Dalam sebuah wawancara, ia pernah berujar bahwa untuk merancang sebuah busana ia harus melakukan pertemuan (interview) terlebih dahulu dengan kliennya, barulah setelah pertemuan itu ia mulai beraksi bereksperimen langsung pada bahan. Awalnya ia merancang busana dengan memasang bahan pada patung. Kemudian imajinasinya dibiarkan mengalir, menuntun tangan terampilnya menggunting serta menambahkan manik-manik dan detail lain pada karya busananya.

Anne Avantie 'Si Kartini Kebaya'
Ilustrasi | Sumber : tabloidnova.com
Saat orang lain berhenti bermimpi menjadi perancang busana ketika tak bisa menggambar, saat itu Anne malah terus memacu dirinya. Ia merasa tidak pernah terbatas dengan pendidikan yang terbatas. Hal yang membuat ia yakin adalah keinginan untuk berubah dan ia pun berhasil mengubah hidupnya. Anne pun membuktikan kepada orang bahwa sebagai perempuan biasa dengan segala kekurangan, tetapi ia tetap mampu berkompetisi. Anne selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkahnya. Rancangan kebayanya yang sempat dianggap ‘aneh’ karena berbeda dari kebanyakan kebaya yang dibuat pada masa itu, kini sudah menjadi trend setter bagi banyak rancangan orang lain. Ia pun tak ingin memusingkan terkait plagiat terhadap rancangannya, karena menurut dia itu sama halnya dengan menginspirasi orang lain. Hingga tahun 2010, Anne memiliki dua butik di Mall Kelapa Gading dan Roémah Pengantén, Grand Indonesia. Bahkan baru-baru ini, Anne pun meluncurkan marketplace dengan nama Anne Avantie Mall untuk membantu para Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam memasarkan produk-produknya. Bagi Anne, karier seseorang tidak bisa diukur dari sebuah ijazah dan ijazah seharusnya tidak menghalangi kemampuan seseorang, karena karier seseorang tidak bisa dihalangi dengan hanya sebuah kertas.  Oleh karena itu, ia pun mempekerjakan tukang jahit dan tukang payet tanpa harus menyertakan ijazah. Anne terus berjuang ingin menjadi perempuan berarti, yang tidak hanya menjadi perancang busana saja. Anne juga aktif di kegiatan rohani dan sosial. Pada tahun 2002, Anne berkolaborasi dengan Rumah Sakit St. Elizabeth (Semarang) mendirikan sebuah rumah singgah bagi penderita Hydrocephalus. Rumah singgah tersebut diberi nama Wisma Kasih Bunda. Namun mulai tahun 2005, banyak penderita Astreni ani, tumor, labiopalataschisis, bibir sumbing, dan penderita cacat lainnya yang datang untuk mendapatkan pertolongan.   Sudahkah Inspirator menginspirasi hari ini? Yuk, SEMANGAT ^^   Keep Breathing Keep Inspiring! Penulis dan Editor : Andreas Maydian Puspito Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY