Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/11). Rapat itu membahas isu-isu terkait permasalahan tenaga kerja di Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/15.

Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dhakiri berharap anak muda Indonesia bisa meningkatkan daya saing agar dapat memenangkan kompetisi di dunia kerja, terutama karena Indonesia sedang mengalami bonus demografi. “Angkatan kerja usia produktif setiap tahun naik. Bahkan nanti Indonesia akan didominasi anak muda. Oleh karena itu, anak muda harus memiliki daya saing agar tidak menjadi beban bangsa,” kata Menaker di Jakarta, Selasa (22/3). Hasil proyeksi penduduk pada tahun 2010-2035 menunjukkan bahwa Indonesia kini memasuki era bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia muda dan lanjut usia, yang puncaknya diperkirakan akan terjadi pada tahun 2028-2030. “Bonus demografi menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Oleh karena itu angkatan kerja muda harus memiliki dan memperkuat karakter diri, keterampilan dan dilengkapi dengan daya innovasi dan kreatifitas yang baik,” kata Hanif. Di bidang ketenagakerjaan bonus demografi harus dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas SDM, penyiapan tenaga kerja dan strategi pembangunan kependudukan. Tantangan utama yang harus menjadi perhatian jangka menengah ataupun panjang disebut Menaker adalah investasi dan pembangunan SDM berkualitas. Karena itu, masalah kependudukan dan peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus utama kerja pemerintah. “Agar bonus itu juga menjadi peluang yang menguntungkan di Indonesia, diperlukan upaya serius semua pihak terutama yang menyangkut peningkatan kualitas SDM, penyiapan tenaga kerja berkualitas dan pembangunan kependudukan,” jelasnya. Salah satu solusi mengurangi angka pengangguran adalah menyesuaikan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja dengan pasar kerja. Menurut Hanif rendahnya standar kualitas keterampilan dan kompetensi kerja kerap mengakibatkan calon tenaga kerja sulit menembus lowongan-lowongan yang disediakan pasar kerja dan industri di Tanah Air. “Lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan harus mampu menyesuaikan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja agar lowongan pekerjaan dapat terisi dan mengurangi angka pengangguran usia muda,” kata Hanif. Untuk meningkatkan kualitas angkatan kerja, Kementerian Ketenagakerjaan terus menggalakkan peran 17 balai latihan kerja (BLK) milik Kemnkertrans dan 262 Unit BLK milik pemda provinsi, kabupaten dan kota yang ada di seluruh Indonesia. “Saat ini pun telah tersedia sekitar 8.039 lembaga pelatihan kerja, baik milik pemerintah maupun swasta. Selain meningkatkan kompetensi, keberadaan BLK dapat mendorong percepatan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran di pusat dan daerah,” katanya. Dengan beragam upaya yang dijalankan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM, Hanif optimistis tenaga kerja Indonesia dapat bersaing dengan para pencari kerja dari yang berasal dari luar negeri, khususnya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai pada akhir 2015. “Pemerintah akan terus mendukung upaya-upaya pengembangan SDM, khususnya tenaga kerja muda, agar mampu mencapai keterampilan dan kompetensi kerja sesuai dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar kerja global,” ujarnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita menghadapi kerasnya persaingan di era ASEAN Community? Ingat, kita tidak hanya bersaing dengan lulusan dalam negeri, tapi juga dengan lulusan dari negara ASEAN lainnya. Kalau kita masih santai-santai, harap berhati-hati karena di luar sana ada banyak anak muda yang siap menggeser posisi mu.   Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY