Afta Bionic Hancurkan Stigma Keterbatasan Difabel dengan Kaki Prostetik

Dokumentasi Pribadi - Walvenardo

Permasalahan yang dihadapi oleh difabel bukan hanya diskriminasi, tetapi keterbatasan akses publik yang menjadikan para difabel kesulitan mendapatkan perlakuan setara. Memang, pemerintah telah mengambil langkah lewat UU Nomor 8 Tahun 2016 dengan pembentukkan Komisi Nasional (Komnas) guna mengontrol segala kebijakan pemerintah agar melindungi difabel. Sayangnya, implementasi dari UU ini belum terlaksana dan dirasakan secara menyeluruh.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak label keterbatasan dan ketidakmampuan yang disematkan masyarakat pada difabel, terutama dalam menggapai mimpi dan meniti karir. Hal ini membuat difabel kehilangan banyak kesempatan kerja.

“Difabel seharusnya juga memiliki kesempatan kerja, dan bahkan seharusnya bukan sekadar mendapatkan pekerjaan tetapi menyesuaikan skill dan passion yang dimiliki,” tutur Arifin Julian, Team Leader and Product Development Afta Bionic.

Permasalahan akses kerja ini dapat dihilangkan melalui peningkatan kesadaran bahwa difabel memiliki porsi yang sama dalam menggapai mimpi dan mendapatkan kesempatan kerja. Afta Bionic kemudian mengajak masyarakat untuk menyebarkan semangat Ability bagi difabel bertepatan dua hari setelah Hari Disabilitas Dunia di tanggal 3 Desember 2019. Bersama Campaign.com dan @america, Afta B-Ionic mengadakan talkshow “Change Disability into Ability” dengan membawa pesan bahwa setiap orang baik difabel atau non difabel memiliki hak atas mimpinya.

Dokumentasi Pribadi – Walvenardo

“Difabel diharapkan ke depannya tidak lagi kesulitan di industri kerja karena menghadapi persyaratan yang lebih berat dari non difabel. Sebab ada kriteria tertentu untuk difabel dianggap sejajar dengan non difabel,” jelas Subandi H. Bonmat, aktivis penggerak Organisasi Yayasan Difabel Mandiri Indonesia (YDMI).

Acara ini kemudian digunakan sebagai panggung bagi para difabel untuk menunjukkan bahwa mereka juga manusia yang punya potensi besar dan unik, bukan orang-orang yang terbatas. Dalam acara ini juga, Afta Bionic melakukan peluncuran produk terbarunya, yaitu kaki prostetik. Kaki prostetik yang diluncurkan ini merupakan salah satu cara Afta Bionic menyelesaikan permasalahan kaki prostetik yang selama ini seringnya tidak sesuai standar kesehatan dan kebutuhan difabel.

“Kami ingin kaki prostetik ini menjadi langkah awal bagi difabel meraih mimpi karena kami tidak hanya menyediakan kaki palsu, melainkan menjadikan difabel partner bagi kami untuk selanjutnya memiliki skill kerja yang bersaing,” lanjut Arifin.

Kaki prostetik ini dijual dengan harga Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dengan kualitas yang tetap menyesuaikan standar difabel, yaitu nyaman dipakai dan tidak menyakitkan. Harapannya, kaki prostetik ini tidak sekadar dipakai tapi juga dapat meningkatkan semangat meraih mimpi dan menghapus label keterbatasan yang ada, sesuai nilai yang dibawa Afta Bionic, yaitu #ChangeDisabilityintoAbility

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here