Jakob Oetama
Dr (HC) Jakob Oetama, salah satu tokoh yang memiliki peran penting terhadap perkembangan jurnalistik di Indonesia dengan membentuk surat kabar Kompas.

Jakob Oetama adalah seorang Presiden Direktur Grup Kompas-Gramedia, sebuah surat kabar yang telah dikenal oleh seluruh masyarakat luas selama lebih dari 50 tahun. Nah, berikut kisah dibalik perjalanan Jakob Oetama :

1. Tidak ada yang tidak mungkin : ia tak pernah bercita-cita menjadi wartawan

Jakob Oetama
Jakob Oetama, pendiri Surat Kabar Kompas | sumber : berkuliah.com
Jakob Oetama lahir di Magelang pada tanggal 27 September 1931. Sebagai putra dari seorang guru pensiunan di Sleman, Yogyakarta, membuat Jakob Oetama memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Selain menjadi guru, ia yang menempuh pendidikan di seminari (jenjang terendah dalam proses pendidikan iman Katolik) membuat ia juga bercita-cita untuk menjadi pastor.

2. Mampu berkembang melalui relasi

Jakob Oetama Jakob Oetama memulai karirnya dalam bidang jurnalistik ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur pada 1956. Lalu pada tahun 1961, Jakob bersama P. K. Ojong membuat majalah bulanan intisari yang diilahmi dari Reader’s Digest asal Amerika. Menjalani hidup dalam bidang media sebagai wartawan, ia akrab bergaul dengan kalangan wartawan, seperti Adniegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. Tidak hanya wartawan, Jakob juga mengembangkan dirinya dengan relasi kepada berbagai tokoh politik dan mentri.

3. Kritiknya manis, meskipun ia sendiri menerima kritik atas karya jurnalistiknya

Kita mungkin akan berpikir bahwa Jakob Oetama selaku pendiri surat kabar Kompas pasti memiliki kemampuan jurnalistik yang baik dan kerap memperoleh pujian. Hal itu ternyata tidak sesuai dengan yang dialami oleh Jakob. Ia kerap kali dicibir sebagai wartawan yang penakut. Jakob adalah sosok wartawan yang memilih untuk mengkritik secara manis, berbeda dengan rekannya Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar yang berjiwa pejuang dan menyuarakan secara keras kepentingan rakyat dan mengkritik pemerintah secara tajam. Bahkan Rosihan Anwar pernah menjuluki Jakob sebagai pelopor “jurnalisme kepiting.”

4. Keberanian dalam menentukan panggilan hidup

Seperti yang disampaikan sebelumnya, Jakob awalnya memiliki impian untuk dapat menjadi guru atau pastor. Tidak pernah terbesit pada awalnya bagi Jakob untuk berperan sebagai wartawan. Namun pada tanggal 5 Februari 1978, Jakob dengan penuh ketegasan menentukan panggilan hidupnya untuk menjadi wartawan dengan menandatangani surat pernyataan dan kesetiaan agar Harian Kompas dapat terbit kembali keesokan harinya.

5. Terus belajar, terus bertarung

Pada tanggal 30 Mei 1980, P. K. Ojong selaku rekan perintis dan pendiri Kompas meninggal dunia secara mendadak. Kepergian Ojong memberikan kepiluan mendalam serta beban berat bagi Jakob, karena selama mengurusi Kompas, Jakob hanya fokus pada tanggung jawab di bidang redaksional, sedangkan urusan bisnis ada dalam tanggung jawab Ojong. Namun dalam menghadapi tantangan tersebut Jakob dengan rendah hati mengatakan, “Saya harus tahu bisnis. Dengan rendah hati, saya akui pengetahuan saya soal manajemen bisnis, NOL! Tapi saya merasa ada modal, bisa mengayomi! Kelebihan saya adalah saya tahu kalau diri saya tidak tahu bisnis.”

6. Memperoleh pengakuan atas ilmu yang diemban

Kariernya sebagai seorang wartawan dan pengusaha media juga diakui oleh Indonesia dan dunia internasional melalui beberapa penghargaan yang ia peroleh selama masa hidupnya. Beberapa penghargaan yang ia terima, antara lain Indonesia Entrepreneur of The Year 2005 dari Ernst & Young dan World Entrepreneur of The Year Academy 2006 dari Ernst & Young, Monaco. Dalam dunia jurnalistik, Jakob memperoleh penghargaan, seperti Lifetime Achievement Award dari PWI (2008), Medali Emas Spirit Jurnalisme dari Komunitas Hari Pers Nasional (2011), Bintang Jasa The Order of The Rising Sun, dan Gold Rays dari Pemerintah Jepang (2009). Kontribusi Jakob dalam keilmuan jurnalistik juga diakui melalui sejumlah penghargaan yang diterimanya, seperti gelar Doctor Honoris Causa dari almamaternya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (2003), Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Sebelas Maret dalam bidang ilmu jurnalistik (2014), dan berbagai penghargaan lainnya.

7. Cinta kepada kesenian dan kebudayaan nasional

Jakob Oetama Jakob juga menaruh perhatian besar pada kesenian dan kebudayaan, kecintaannya terhadap kesenian dan kebudayaan diwujudkannya dengan membangun Bentara Budaya di Jakarta dan Yogyakarta untuk mewadahi aktivitas kesenian atau memamerkan karya-karya para seniman yang tidak mendapat tempat di luar sana. Jakob bersama Kompas-nya juga suka mengoleksi karya-karya seni yang kemudian karya-karya yang telah dibeli, dipajang di lingkungan Gedung Kompas-Gramedia sekaligus di Bentara Budaya. Perkembangan sastra Indonesia juga tidak luput dari perhatiannya. Langkahnya ini disebut Jakob sebagai upaya untuk mengenal Tanah Air, baginya kesenian dan kebudayaan merupakan perekat kesatuan dan persatuan Indonesia.

8. Santun dan rendah hati

Karakter ini adalah hal yang sangat erat dengan citra Jakob Oetama. Hingga kesuksesannya dalam mengembangkan Kompas, Jakob lebih memilih disebut sebagai wartawan dibandingkan dengan pengusaha. Jakob dipuji sebagai wartawan yang serba sopan dan santun dalam berperilaku dalam menjalankan profesinya, maupun dalam kehidupannya sehari-hari.

Sumber : kompasiana.com
Nah Inspirators, itu dia delapan kisah hidup Jakob Oetama. Berbagai rintangan dan tantangan telah dialami oleh Jakob Oetama dalam mengembangkan jurnalisme di Indonesia. Dapat dibayangkan apabila Jakob ternyata mundur dan menyerah ketika berhadapan dengan rintangan hidup yang dialaminya? Mungkin pada saat ini kita tidak dapat menggenggam sumber informasi yang aktual dan menjadi kiblat dari media di Indonesia.   Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Ryan Sucipto Editor   : Andreas Maydian Puspito Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY