Agit Bambang Pemilik Amble Footwear

Perkembangan dunia fashion di Indonesia terus berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini terjadi karena berbagai macam faktor yang mempengaruhinya seperti munculnya berbagai fashion desainer lokal yang potensial, perkembangan sektor ritel yang berkembang, hingga perekonomian dalam negeri yang membaik. Faktor-faktor ini turut melahirkan sejumlah brand-brand fashion lokal yang berkualitas dan tidak kalah saing dengan brand-brand fashion asing. Kali ini IF akan merangkum 10 brand fashion lokal yang kualitasnya diakui hingga ke dunia internasional. 1.Major Minor

Sumber: http://femaledaily.com/
Jangan salah sangka, Major Minor ternyata merupakan brand fashion dari Indonesia. Brand fashion ini dibangun sepasang suami istri yaitu Ari dan Sari Saputra,  serta dua desainer Inneke Margaretha dan Ambar Pratiwi. Major Minor telah diakui kualitasnya secara internasional pada tahun 2013, hanya selang beberapa tahun dari waktu peluncurannya pada tahun 2011. Koleksi busana Major Minor sudah banyak dijual di situs belanja dunia internasional salah satunya di Inggris. Situs belanja asal Inggris Harvey Nichols memajang koleksi busana Major Minor bersamaan dengan karya desainer luar negeri lainnya seperti Lanvin, Kenzo, Armani, Alexander McQueen. 2.Bagteria
Sumber: viva.id
Namanya saja terdengar unik ya! Bagteria masih terdengar asing di telinga kita mengingat produk ini lebih dulu terkenal di luar negeri. Produk-produk tas Bagteria ini ternyata dikagumi oleh selebriti-selebriti di dunia seperti Paris Hilton, Blake Lively. Nancy Go merupakan desainer Indonesia yang ada di balik kesuksesan dari Bagteria.  Pada awal peluncurannya Nancy tidak pernah membayangan kalau tas Bagteria rancangannya bisa dikenal dan digunakan oleh masyarakat dunia internasional.
Nancy Go
Penggunaan nama “Bagteria” merupakan harapan Nancy agar produk-produk tas karyanya bisa mewabah seperti bakteri. Bagteria bisa dikatakan sebagai produk tas yang ekslusif dari bahan-bahan terpilih dengan kisaran harga Rp 1 juta hingga puluhan juta rupiah. Kehadiran Bagteria sendiri berawal dari hobi Nancy yang gemar merajut, menyulam dan menjahit. Hobinya itu ternyata kerap kali menjadi bahan ejekan teman-teman Nancy yang menyebut Nancy bertingkah seperti layaknya nenek-nenek. Namun ia tidak peduli dan terus mengembangkan kecintaannya pada dunia desain hingga masuk Susan Budiardjo Fashion College jurusan desain fashion pada tahun 1985. 3.Sissae Qipao
Salah satu produk Sissae Qipao | Sumber: axioo.com
Sissae Qipao merupakan brand fashion yang menjual cheongsam, baju khas dari Cina. Siapa sangka brand fashion ini berasal dari Inwi Willy yang mengombinasikan elemen sejarah, karya seni, dan fashion khas Tionghoa dan Indonesia ke dalam satu kesatuan produk fashionnya. Ia mengajak dua saudara kandungnya untuk ikut mengembangkan produk fashionnya. Sederetan artis Indonesia lainnya pun pernah memakai rancangan Inwi tersebut. Seperti Atiqah Hasiholan, Ashanty, Chelsea Olivia dan masih banyak lagi. Tak heran harga yang ditawarkan untuk satu rancangan Sissae Qipao dibanderol mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Kini Qipao miliknya telah merambah ke seluruh dunia, seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Dubai, dan Inggris. 4.Cotton Ink
Carline Darjanto and Ria Sarwono, dua orang desainer muda Indonesia yang berada di balik Cotton Ink | Sumber: jjk.co.id
Brand fashion Indonesia ini seringkali dikira produk luar negeri. Cotton Ink merupakan merek pakaian wanita yang berasal dari karya dua orang desainer muda, Carlin Darjanto dan Ria Sarwono. Semuanya berawal pada persahabatan mereka berdua yang dijalin sejak SMP hingga sekarang. Selepasnya dari SMA, Carline menempuh studi fashion di Lasalle College of Fashion Jakarta, sedangkan Ria memilih kursus singkat di London College of Fashion. Cotton Ink mendapatkan momentum kiprahnya saat memperkenalkan kaos sablon dengan gambar Barack Obama yang di tahun 2008 sedang trend. Dari sukses jualan kaos sablon bergambar wajah Obama, dua sekawan itu kemudian menambah beberapa produk pakaian wanita seperti busana siap pakai, legging, aksesori dan syal. Produk inilah yang benar-benar mengangkat nama Cotton Ink Mereka memanfaatkan batik dan kain tenun khas Indonesia yang kemudian dimodifikasi semenarik mungkin bagi konsumennya yaitu anak muda. Karya-karya mereka menghantarkan Cotton Ink meraih Most Favorite Brand di Brightspot Market; The Most Innovative Branddalam Cleo Fashion Award (Jakarta Fashion Week); Best Local Brand dari Free Magazine, serta terpilih sebagai merek lokal favorit In Style Magazine tahun 2012. 5.Men`s Republic
Yasa Singgih, sosok di balik kesuksesan Men`s Republic | Sumber: blogspot.com
Men`s Republic merupakan brand fashion yang dirintis oleh Yasa Singgih dari titik nol. Semuanya bermula tatkala ayahnya yang menderita sakit jantung, pada saat ia sedang duduk di bangku SMP. Ia mengkhawatirkan bagaimana kelak masa depannya, Yasa tidak ingin menjadi seorang anak yang justru semakin menambah beban pada orang tua. Hal ini membuatnya berusaha mencoba berbagai macam pekerjaan untuk memperoleh pemasukan secara mandiri seperti menjalani pekerjaan sebagai MC. Pada awal perintisannya Yasa hanya bermodalkan nekat, ia sama sekali kurang mengetahui seluk beluk seputar dunia fashion. Ia pun sempat bangkrut dalam menjalani usahanya.  Kegagalan ini tidak meruntuhkan semangat Yasa untuk terus mengibarkan bendera Men`s Republic, ia kembali bangkit dengan bekal business plan yang baik dan rapi sehingga produk-produk Men`s Republic menjadi incaran para kaum adam.  Produk-produk yang dijual tidak hanya berupa sepatu kasual tapi juga jaket hingga sepatu sandal untuk pria. 6.Matoa
Produk jam tangan Matoa | Sumber: Qlapa.com
Pernah membayangkan memakai jam tangan dari kayu? Mungkin terdengar aneh ketika mendengar produk jam tangan yang terbuat dari bahan kayu. Tapi ide ini menjadi ciri khas tersendiri dari Matoa yang dikelola oleh Lucky Dana Aria. Kehadiran jam tangan berbahan kayu sebenarnya sudah populer di luar negeri namun tidak di Indonesia. Peluang inilah yang menjadikan Lucky terdorong untuk menghasilkan produk jam tangan berkualitas berbahan kayu. Pada awalnya Lucky sama sekali tidak mengetahui soal kayu maupun cara berwirausaha, namun berkat ketekunannya, ia sukses membawa Matoa berkembang. Eco Watch, itulah salah satu ide dari Lucky untuk menciptakan produk jam ramah lingkungan. Produk-produk Matoa menggunakan bahan limbah kayu sehingga membuat biaya produksinya lebih sedikit namun tetap mampu menghasilkan kualitas produksi yang mumpuni. Ia selalu memiliki impian, jika penjualan jam tangannya mencapai 1000 jam tangan, ia juga akan menanam 1000 bibit pohon baru loh. Produknya juga berhasil merambah ke dunia internasional seperti Jepang dan Amerika Serikat. 7. Amble Footwear
Agit Bambang bersama produk sepatunya Amble Footwear | Sumber: flickr.com
Berawal dari hobinya mengoleksi sepatu kulit, pada bulan Oktober 2009, Agit memulai usahanya melalui brand Amble Footwear dalam bisnis sepatu kulitnya. Ia melihat bahwa sepatu kulit yang diproduksi luar negeri harganya sangat mahal. Agit mencoba-coba mendesain 13 buah sepatu kulit dan menjualnya di Kaskus. Ternyata, sepatu-sepatu tersebut ludes terjual hanya dalam waktu tiga hari. Amble Footwear merupakan hasil jerih payah Agit Bambang selama ini. Seperti dilansir dari ziliun.com, Agit sendiri selalu bangga bahwa produk sepatu dari bisnisnya adalah produk 100 persen Indonesia. Di setiap sepatu Amble Footwear yang diproduksi, selalu dicantumkan tulisan “Made with Proud in Indonesia”. Kebanggaan ini juga datang dari kepercayaan Agit bahwa orang Indonesia punya kemampuan untuk memproduksi sepatu kulit berkualitas. Dengan kualitas dan eksklusifitas serta harga yang cukup terjangkau untuk segmen kelas atas (rata-rata di atas 500 ribu rupiah), produk Amble Footwear sudah diekspor ke Malaysia, Singapura, serta beberapa negara Eropa. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Dylan Aprialdo Rachman Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak
LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY