ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016,
5 Sekawan dari UGM yang berhasil memperoleh juara 2 dalam ajang ESPRIEX Business Model ASEAN 2016: Nissa Amelia Pahlevy, Nindya Dini Pangestika, Bagus Avianto Putra Perdana, Fury Oktria Putra, serta Irfan Harris

Tahukah Inspirator! angka Kematian Ibu Hamil di Indonesia masih tinggi, Menteri Sosial khofifah Indar Parawansah pada tahun 2015 silam pernah mengatakan bahwa angka kematian ibu hamil di Indonesia meningkat dari 228 per 100 ribu kelahiran menjadi 359 per 100 ribu kelahiran. Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa salah satu penyebab tingginya angka kematian Ibu di Indonesia adalah kualitas hidup yang rendah, rata-rata pendidikan rendah, derajat kesehatan dan gizi rendah, anemia, kurang zat besi hingga ekslamsia. Faktor-faktor lainnya yang cukup berperan adalah kurangnya pendidikan reproduksi, waktu yang singkat jarak antara kehamilan, serta kurangnya perawatan kesehatan prenatal. Kondisi seperti inilah yang menggerakkan nurani 5 sekawan dari Universitas Gadjah Mada untuk memberikan kontribusinya sebagai anak muda dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian ibu hamil dengan mengembangkan sebuah aplikasi mobile berbasis Android yang disebut PRELITE. Mereka adalah Nissa Amelia Pahlevy, Nindya Dini Pangestika, Bagus Avianto Putra Perdana, Fury Oktria Putra, serta Irfan Harris. Ide inilah yang membawa kelimanya berhasil memperoleh juara ke-2 dalam acara ESPRIEX Business Model Competition ASEAN 2016 yang diselenggarakan oleh Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.

Salah seorang ibu menunjukkan prototype aplikasi Prelite dalam Uji Coba | Sumber: ugm.ac.id
Nissa bercerita bahwa ide ini muncul akibat kebingungan mereka dalam mencari ide untuk mengikuti kompetisi ini. Namun, berkat hasil diskusi Nissa bersama rekan-rekannya mereka memutuskan untuk mengangkat isu angka kematian ibu hamil yang masih tinggi di Indonesia untuk dicarikan solusinya. “Kita mulai cari-cari faktor sebenernya tuh apa sih, kita tanya pihak medis, kita literature review, dan ternyata beberapa penyebabnya akibat masalah kesehatan, nah yang kita lihat juga adalah faktor minimnya edukasi. Muncul ide dari sana gimana kalau kita coba mengurangi angka kematian ibu itu dari yang anak muda bisa bantu,” kata Nissa saat ditemui oleh Inspirator Freak seusai acara di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, (23/2). Ia juga menambahkan bahwa meskipun ia dan rekannya bukan berlatar belakang dari dunia kedokteran, hal itu tidak membatasi dirinya dan rekan-rekan untuk berkontribusi lebih sebagai pemuda Indonesia dalam mengurangi angka kematian ibu hamil di Indonesia. Aplikasi ini diharapkan dapat menyajikan informasi lengkap seputar perawatan kehamilan ibu dan calon bayinya sekaligus merekam kondisi kesehatan para ibu hamil secara digital. “Kita coba berikan yang kita bisa dan kita bikin aplikasi yang bisa mengedukasi ibu-ibu hamil untuk bagaimana menjaga kehamilan mereka dari awal kehamilan sampai akhir kehamilan,” lanjut Nissa.
Tim Legend yang mengembangkan aplikasi Prelite saat menerima penghargaan sebagai juara 2 dalam kompetisi ESPRIEX Business Model ASEAN 2016 di Universitas Brawijaya, Malang | Dok. Inspirator Freak
Tim Legend yang mengembangkan aplikasi Prelite saat menerima penghargaan sebagai juara 2 dalam kompetisi ESPRIEX Business Model ASEAN 2016 di Universitas Brawijaya, Malang | Dok. Inspirator Freak
Persoalan yang dihadapi di Indonesia menurut Nissa adalah penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih dinilai kurang efektif dalam memantau kesehatan ibu hamil yang bersangkutan. Menurutnya, sang ibu tidak bisa memantau secara realtime terkait dengan kondisi kesehatanya. “Dari situ ternyata itu tuh cuma bisa diisi dari orang-orang kedokteran, si ibu sendiri belum bisa memantau kesehatannya, nah gimana kalau kita mengakomodasi biar ibu itu bisa mengontrol kesehatannya sendiri,” lanjut mahasiswi Teknik Industri ini. Hal senada juga diungkapkan oleh Bagus, ia mengatakan bahwa dengan aplikasi Prelite ini bisa menggantikan kehadiran buku KIA agar para ibu hamil bisa memantau kondisi kesehatannya setiap saat dan dimana saja. Bagus juga menyebutkan bahwa aplikasi ini mendapatkan respon positif ketika dilakukan uji coba kepada para ibu hamil. “Waktu masa percobaan dari mereka sendiri pun bilang bagus, mudah dipakai. jadi gak ribet, semuanya ada dalam satu genggaman mulai dari references, medical report, online shopping (belanja kebutuhan perawatan kehamilan-red), sampai online consultation,” jelas Bagus. Sebagai developer aplikasi ini, Bagus mengakui bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dari aplikasi ini sehingga masih perlu dikembangkan lebih lanjut kualitasnya sebelum diluncurkan secara resmi lewat Google Play. Sementara itu menurut Nindya, aplikasi ini masih ditujukan kepada pengguna smartphone berbasis Android mengingat kondisi pasar di Indonesia didominasi oleh pengguna Android. Meskipun demikian, Nindya bersama timnya tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan aplikasi ini agar kompatibel dengan semua operating system (OS) smartphone. Kelimanya mengharapkan dukungan dari berbagai pihak khususnya para developer profesional untuk membantu melakukan penyempurnaan terhadap aplikasi ini agar bisa digunakan dengan baik oleh para pengguna. Selain itu, mereka juga berharap partisipasi para dokter dan ahli nutrisi untuk membantu mereka dalam menyediakan fasilitas yang ada di aplikasi itu seperti konsultasi online. Menghadapi MEA Saat ditanya oleh Inspirator Freak seputar Masyarakat Ekonomi ASEAN, Nissa mengatakan anak muda Indonesia perlu terus menerus melakukan inovasi di dalam menghadapi persoalan dan tantangan yang muncul di masyarakat. “Kita harus lebih banyak inovasi, misalkan di tempat kita nih sebenernya kan udah ada buku KIA itu dan itu juga buat giving medical report, tapi ketika kita tanya ke customer (ibu-ibu hamil) ternyata mereka masih butuh hal lain selain itu, dan dari dokter pun juga bilang ada cara lain yang bisa ibu lakukan untuk menjaga kesehatannya, jadi intinya banyak-banyak inovasi,” kata dia. Hal senada juga dikatakan oleh Irfan, ia juga berpesan kalau anak muda Indonesia harus selalu meningkatkan kualitas dirinya sesuai dengan minat dan bakat yang ada. Bagi Irfan sudah ketinggalan zaman bagi anak muda Indonesia yang masih menye-menye dan meributkan hal-hal yang tidak esensial. Keep Breathing Keep Inspiring Penulis  : Dylan Aprialdo Rachman Editor    : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY