5 pesan kartini pada perempuan masa kini

Perayaan Hari Kartini idetak sekadar seremonial kebaya dan sanggul. Esensi dari perayaan Hari Kartini seharusnya menjadi renungan bagi para kaum perempuan dalam menyikapi isu feminisme.

Apa saja pemikiran dan tulisan Kartini yang masih relevan hingga kini? Berikut 5 Pesan Kartini untuk Perempuan Masa Kini. 

  1. Panggil aku Kartini saja, itu namaku.”

Dalam surat yang ditujukan kepada sahabat pena-nya, Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini ingin dikenal tanpa gelar kebangsawanannya. Permintaan ini merupakan sikap, dan deklarasi pendiriannya bahwa semua orang sama, tidak dibedakan oleh pangkat, jabatan, atau gelar kebangsawanan.

  1. Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.”

Aturan yang dimaksud dalam surat Kartini adalah etiket bangsawan jawa dalam lingkungan keluarga dan tata aturan feodal. Kartini percaya feodalisme yang absurd bisa dibendung dengan prinsip “makin tinggi kebangsawanan, tugas, dan kewajibannya terhadap rakyat makin berat.” Agar kaum bangsawan menyadari kewajibannya, pendidikan dan pengetahuan harus diperluas.

  1. Mari, wahai perempuan, gadis-gadis muda, bangkitlah, mari bergandeng tangan dan bekerjasama untuk mengubah keadaan yang tak tertahankan ini.”

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Kartini dipingit.  Dalam pingitannya, Kartini banyak membaca buku-buku modern dan koran baik dari dalam maupun luar negeri. Bacaan-bacaan bertema sosial, politik, hingga sastra itu membantu Kartini menemukan jawaban dan kesadaran bahwa selama ini Ia menjadi perempuan jawa yang jauh dari pendidikan.

Memajukan kaum perempuan melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan, akan melengkapi keahlian yang bisa menopang kehidupannya sendiri, juga menentukan jalan hidupnya dalam urusan perkawinan. Kartini pun mendirikan sekolah untuk gadis jawa pertama di Hindia Belanda.

  1. “Kau tahu ini adalah mimpiku bila suatu hari nanti aku bisa menjadi penulis yang diperhitungkan dalam bidang seni sastra.”

Bakat menulis Kartini terasah sejak Ia dalam pingitan. Tulisan pertamanya adalah mengenai upacara perkawinan suku koja di Jepara yang kemudian dipublikasikan dalam Bijdragen tot de Taal (Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia Tenggara dan Oseania).

Selain menulis tentang pernikahan adat, Kartini juga menulis tentang seni dan budaya. Menurut Didi Kwartanada, Sejarawan dari Yayasan Nabil, Kartini bukan hanya wartawan pertama, tapi juga antropolog pertama Indonesia.

  1. “Perubahan akan datang di bumiputera. Jika karena tidak kami, pasti dari orang lain. Emansipasi telah berkibar di udara, sudah ditakdirkan.”

Semua pemikiran dan pokok perjuangannya, Kartini memahami bahwa upayanya tak mudah dan butuh waktu yang panjang. Tapi dia percaya perjuangannya suatu saat akan membuahkan hasil. Kartini optimis jika di masa mendatang, cita-cita besar untuk kebebasan dan kesetaraan kaumnya dapat terwujud. Ya, melalui tulisannya yang mengkritisi isu sosial itulah kini sosoknya dikenal sebagai tokoh feminisme.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

 

LEAVE A REPLY