4 Strategi Pemerintah Indonesia Untuk Menghadapi Revolusi Industri Keempat

Foto: techradar.com

Revolusi Industri Keempat atau Industri 4.0 adalah label yang diberikan untuk menggambarkan kombinasi yang terjadi secara perlahan antara pemanufakturan tradisional dan praktik industri dengan dunia yang semakin menerapkan teknologi di sekeliling kita. Negara-negara di dunia mulai menyusun strategi terbaik supaya ekonominya tidak tergilas persaingan.

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, dunia semakin mendekati era industri baru. Pada era Revolusi Industri Keempat, komputer dan automasi akan melebur dalam cara yang sepenuhnya baru dengan robot-robot terhubung ke sistem komputer yang dilengkapi dengan mesin yang mempelajari algoritma. Mesin-mesin pintar ini bisa mempelajari dan mengendalikan robot dengan sangat sedikit masukan dari operator manusia.

Siapa yang mempopulerkan istilah Industri 4.0?

Memo pemerintah Jerman yang dirilis pada 2013 menjadi satu dari beberapa momen awal ketika istilah “Industri 4.0” disebut. Dokumen strategi berteknologi tinggi itu memaparkan kerangka rencana untuk menerapkan komputerisasi industri pemanufakturan secara hampir seratus persen tanpa membutuhkan keterlibatan manusia.

Angela Merkel, kanselir Jerman, berbicara dengan penuh semangat tentang konsep ini pada Januari 2015 di World Economic Forum di Davos dengan menyebut Industri 4.0 adalah cara kita, “Mengatasi dengan cepat peleburan antara dunia daring dan dunia produksi industri.”

Apa syarat bagi pabrik atau sistem supaya layak masuk kategori Industri 4.0?

Foto: Forbes

Supaya layak masuk kategori Industri 4.0, pabrik atau sistem harus memenuhi empat syarat utama, yaitu memiliki:

Interoperability (kemampuan sistem komputer atau software untuk mengubah dan memanfaatkan informasi)
Mesin, perangkat, sensor, dan orang terkoneksi dan berkomunikasi satu sama lain.

– Transparansi informasi
Sistem menciptakan salinan virtual dunia fisik melalui data sensor dengan tujuan untuk menghubungkan dan memperhitungkan semua informasi.

– Bantuan teknis
Pertama, kesanggupan sistem untuk mendukung manusia dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Kedua, kemampuan untuk membimbing manusia melakukan tugas-tugas yang terlalu sulit atau tidak aman bagi manusia.

– Pengambilan keputusan yang terdesentralisasi
Kemampuan sistem fisik-siber untuk memutuskan sendiri keputusan sederhana dan sebisa mungkin mengurus kebutuhannya sendiri.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah Industri 4.0 akan terjadi, melainkan seberapa cepat era ini “berkuasa”. Jika melihat tren bisnis saat ini, sepertinya orang-orang yang paling awal mengadopsi sistem ini akan mendapatkan “hadiah” karena keberanian mereka terjun ke dunia teknologi baru ini. Orang-orang yang menghindari atau takut pada risiko perubahan akan ketinggalan.

Bagaimana strategi pemerintah Indonesia menghadapi Revolusi Industri Keempat?

Dikutip dari laman resmi Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Menteri Perindustrian Airlangga Hartartodi mengatakan pemerintah telah menyiapkan empat strategi.

Foto: techradar.com

Pertama, menurut Airlangga, pihaknya sedang mendorong supaya angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi Internet of things atau mengintegrasikan kemampuan Internet dengan lini produksi di industri.

“Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri,” ujar Airlangga.

Kedua, pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini merupakan upaya memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industri 4.0,” imbuhnya.

Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional supaya dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. “Sistem Industri 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen,” ungkapnya.

Keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park-Rumah Software Indonesia), dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

Empat strategi pemerintah ini tentu saja harus fleksibel dan butuh kerja sama berkelanjutan yang solid dengan semua pihak. Jika ini bisa diwujudkan, Indonesia pasti siap mengucapkan, “Selamat datang era Industri 4.0.”

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here